Ketika Piala Dunia Menjadi Investasi Nasional
ILUSTRASI Ketika Piala Dunia Menjadi Investasi Nasional.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
DI mata publik, Piala Dunia identik dengan pesta sepak bola terbesar di planet ini. Namun, bagi para ekonom, turnamen empat tahunan tersebut sesungguhnya merupakan laboratorium raksasa untuk menguji apakah investasi publik berskala masif benar-benar mampu menggerakkan perekonomian.
Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana itu: apakah menjadi tuan rumah Piala Dunia selalu menghasilkan keuntungan ekonomi?
Paper International Monetary Fund (IMF) berjudul 2022 FIFA World Cup: Economic Impact on Qatar and Regional Spillovers memberikan jawaban yang lebih bernuansa. Temuan IMF menunjukkan bahwa Piala Dunia memang mampu menciptakan efek ganda yang luas, tetapi besarnya manfaat sangat bergantung pada strategi pembangunan yang dijalankan negara penyelenggara.
Dengan kata lain, bukan Piala Dunia-nya yang menentukan keberhasilan ekonomi, melainkan bagaimana suatu negara memanfaatkan momentum tersebut sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.
BACA JUGA:Piala Dunia sebagai Riwayat Manusia
BACA JUGA:Siapa di Final Piala Dunia 2026?
Qatar menjadi contoh menarik. Banyak kritik menyebut negara tersebut menghabiskan dana hingga USD200–300 miliar menjelang Piala Dunia 2022. Namun, IMF menegaskan bahwa sebagian besar investasi tersebut bukanlah biaya penyelenggaraan pertandingan semata.
Pembangunan stadion hanya sekitar USD6,5 miliar, sedangkan mayoritas dana dialokasikan untuk jaringan metro, pelabuhan, bandara, jalan raya, hotel, kawasan perkotaan, hingga infrastruktur pendukung yang memang telah menjadi bagian dari Qatar National Vision 2030.
Itulah perbedaan mendasar antara membangun untuk Piala Dunia dan menggunakan Piala Dunia untuk mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Dalam teori Keynes, belanja pemerintah menghasilkan efek ganda, yakni setiap rupiah atau dolar yang dibelanjakan akan menciptakan putaran aktivitas ekonomi berikutnya melalui peningkatan pendapatan, konsumsi, investasi, dan kesempatan kerja. Fenomena itulah yang tampak di Qatar.
BACA JUGA:Gebyar Piala Dunia dan Pembelajaran Multikulturalisme
BACA JUGA:Psikososialnya Piala Dunia: Dari Gegap Gempita Penonton ke Polarisasi Pendukung Tim
Sebelum peluit pertama dibunyikan, sektor konstruksi menikmati lonjakan permintaan selama hampir satu dekade. Perusahaan semen, baja, arsitektur, konsultan teknik, logistik, hingga pemasok material memperoleh proyek bernilai miliaran dolar. Ribuan tenaga kerja lokal maupun migran terserap dalam pembangunan berbagai proyek strategis.
Setelah infrastruktur selesai, giliran sektor lain yang menikmati manfaatnya. Hotel, restoran, transportasi udara, maskapai penerbangan, operator metro, perusahaan penyewaan kendaraan, pusat perbelanjaan, usaha kecil, industri kreatif, penyedia hiburan, hingga sektor telekomunikasi mengalami peningkatan permintaan yang signifikan selama turnamen berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: