Berserawung agar Tak Kontrang-kantring

Berserawung agar Tak Kontrang-kantring

ILUSTRASI Berserawung agar Tak Kontrang-kantring.-Arya/AI-Harian Disway-

Itu membuat komunikasi tidak berhenti ketika pesan sampai kepada penerima, tetapi ketika kedua pihak mulai memahami satu sama lain. Dalam pengertian itulah, komunikasi tidak hanya membuat informasi bergerak, tetapi juga membangun hubungan antarmanusia.

BACA JUGA:Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring

Jika komunikasi merupakan upaya membangun kesalingpahaman, ruang perjumpaan menjadi tempat di mana hal itu bertumbuh. Di dalamnya, komunikasi tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman yang dibagikan bersama. 

Itu sering disebut sebagai aspek nonverbal seperti ekspresi wajah, intonasi suara, jeda dalam percakapan, hingga kehadiran yang dirasakan secara langsung membantu seseorang memahami bukan hanya apa yang dikatakan, melainkan juga apa yang sebenarnya dimaksudkan. Melalui pengalaman yang terus berulang itulah, kesalingpahaman perlahan terbentuk.

Saya selalu percaya bahwa ketika cara manusia berkomunikasi berubah, masyarakat pun ikut berubah. Transformasi digital membawa konsekuensi yang lebih jauh daripada sekadar mengubah cara manusia berinteraksi. 

Perubahan itu juga mengubah pengalaman komunikasi dan cara orang memperoleh pengetahuan maupun pengalaman hidup. Kemudahan mengakses informasi melalui mesin pencari, media sosial, dan berbagai platform digital membuat banyak proses belajar tidak lagi selalu berlangsung melalui percakapan dengan orang-orang di sekitar. 

Sherry Turkle (2011) mengingatkan bahwa meskipun teknologi membuat manusia makin mudah terhubung, konektivitas digital tidak selalu menghadirkan kualitas percakapan yang memungkinkan orang saling memahami secara lebih mendalam. 

Teknologi mampu menyediakan jawaban dengan cepat, tetapi proses mempertemukan pengalaman hidup yang berbeda tetap memerlukan dialog antarmanusia.

Perubahan kualitas pengalaman komunikasi tersebut pada akhirnya juga memengaruhi cara masyarakat membangun relasi sosial. Barry Wellman (2012) melalui konsep networked individualism menjelaskan bahwa teknologi digital menggeser pola hubungan sosial dari komunitas yang relatif tetap menuju jejaring personal yang lebih fleksibel dan berpusat pada individu. 

Pengalaman komunikasi pun makin banyak berlangsung dalam jejaring yang dibentuk berdasarkan minat, kebutuhan, dan kedekatan tertentu. Konsekuensinya, kesempatan untuk mempertemukan pengalaman hidup yang berbeda, termasuk pengalaman lintas generasi, menjadi makin terbatas. 

Di sanalah tantangan komunikasi muncul: informasi makin mudah diperoleh, tetapi ruang dialog yang mempertemukan pengalaman antargenerasi tidak selalu tumbuh secepat perkembangan teknologinya.

Merawat Dialog Antargenerasi

Barangkali, di sinilah istilah kontrang-kantring yang ditawarkan Suko Widodo menemukan makna yang lebih luas. Persoalannya bukan semata-mata tentang generasi Z yang kehilangan arah, melainkan juga tentang masyarakat yang perlahan kehilangan ruang untuk membangun kesalingpahaman. 

Ketika komunikasi makin sering dipahami sebagai sekadar pertukaran informasi, sementara ruang-ruang perjumpaan terus menyusut, yang ikut memudar bukan hanya kedekatan antarmanusia, melainkan juga kesempatan untuk saling memahami pengalaman hidup satu sama lain.

Dalam khazanah budaya Jawa, sesungguhnya terdapat satu konsep yang menjadi tawaran untuk membaca perubahan itu, yaitu serawung. Selama ini serawung sering dimaknai sebagai kebiasaan berkumpul atau bersosialisasi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: