Tidak Kontrang-kantring, Kami Sedang Mencari Jalan

Tidak Kontrang-kantring, Kami Sedang Mencari Jalan

Amarantine Salsabila Putrisiwi adalah mahasiswi Fakultas Sastra Jepang, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.--

”SETIAP generasi merasa dirinya lebih bijaksana daripada generasi sesudahnya dan lebih cerdas daripada generasi sebelumnya.” Kalimat George Orwell itu terasa relevan ketika kita membaca berbagai label yang kerap dilekatkan kepada generasi Z. Mulai ”pemalas”, ”mudah menyerah”, ”mental rapuh”, hingga istilah baru yang diperkenalkan dalam artikel Harian Disway, ”kontrang-kantring” –sebuah metafora tentang generasi yang dianggap berjalan tanpa arah.

Saya mengapresiasi semangat artikel tersebut. Alih-alih menghakimi, penulis mengajak pembaca melihat bahwa di balik kegelisahan generasi tua terdapat kepedulian agar generasi muda tetap bertumbuh. 

Gagasan mengenai pentingnya jalan tengah –antara kebebasan dan bimbingan– merupakan pesan yang patut disambut. Namun, ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama. Apakah setiap cara hidup yang berbeda harus selalu dimaknai sebagai kehilangan arah?

BACA JUGA:Generasi Digital yang Kontrang-kantring

BACA JUGA:Ketika Manusia Menjadi Robot: Meneruskan Pemikiran Suko Widodo tentang Generasi Kontrang-kantring

Sejarah menunjukkan bahwa hampir setiap generasi muda selalu menerima stigma dari generasi sebelumnya. Socrates bahkan pernah dikutip mengeluhkan bahwa anak muda ”tidak menghormati orang tua”. 

Pada dekade 1960-an, generasi baby boomers dianggap terlalu memberontak. Generasi X dicap sinis. Milenial disebut terlalu manja. Kini giliran gen Z (kami) yang menjadi sasaran berbagai stereotipe. Seolah-olah, pergantian generasi selalu diiringi pergantian label negatif.

Barangkali benar ungkapan filsuf Arthur Schopenhauer bahwa ”setiap generasi menertawakan generasi lama dan pada saat yang sama mengeluhkan generasi baru”. Kritik antargenerasi ternyata bukan fenomena baru; ia adalah pola sosial yang terus berulang.

Gen Z memang tumbuh dalam dunia yang berbeda. Kami lahir ketika internet bukan lagi teknologi baru, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Cara belajar, bekerja, membangun relasi, bahkan mencari nafkah pun berbeda. 

BACA JUGA:Halusinasi Kompetensi Kaum Kontrang-kantring

BACA JUGA:Berserawung agar Tak Kontrang-kantring

Karena itu, ukuran keberhasilan yang digunakan generasi sebelumnya tidak selalu dapat diterapkan secara utuh pada generasi sekarang.

Label ”pemalas”, misalnya, sering kali muncul karena produktivitas masih diukur dari kehadiran fisik. Padahal, banyak anak muda yang bekerja dari rumah sebagai desainer, ilustrator, programer, penulis, editor video, kreator konten, hingga freelancer global. 

Gen Z mungkin bukan tipikal berangkat pagi-pulang sore, tetapi bukan berarti tidak bekerja. Yang berubah bukan etos kerjanya, melainkan cara kerjanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: