Cara Menghargai Hal yang Sudah Dimiliki, Belajar dari Marcus Aurelius

Cara Menghargai Hal yang Sudah Dimiliki, Belajar dari Marcus Aurelius

Ilustrasi para pemikir Yunani. Pada masa silam, kawasan itu kerap melahirkan filsuf besar. Salah satunya Marcus Aurelius dengan filsafat stoik.--magnific

Ia juga memberikan peringatan. Bahwa rasa senang terhadap apa yang dimiliki tidak boleh berubah menjadi keterikatan berlebihan.

Seseorang dapat menikmati apa yang ada dalam hidupnya. Tapi tanpa menggantungkan seluruh ketenangan batin pada hal tersebut. Yang pada akhirnya sebuah kehilangan mampu menghancurkan dirinya.

Manusia cenderung kembali menganggap biasa sesuatu yang sebelumnya sangat diinginkan. Itulah gagasan Aurelius. 

BACA JUGA:Mengikuti Diskusi Teosofi di Sanggar Penerangan Surabaya: Filsafat, Sains, dan Spiritualitas

BACA JUGA:Cegah Deforestasi dan Bencana, Belajar dari Filsafat Konfusius

Hal itu juga dikenal dalam psikologi modern. Yakni hedonic treadmill. Istilah yang diperkenalkan Philip Brickman dan Donald Campbell pada 1971. 

Hedonic treadmill menggambarkan kecenderungan manusia untuk kembali pada tingkat kebahagiaan normal setelah mengalami peristiwa baik atau buruk.

Hal baru yang sebelumnya sangat diinginkan dapat dengan cepat berubah. Menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Karena itu, arahan Aurelius dapat dipandang sebagai upaya untuk menghentikan kebiasaan mengambil sesuatu yang telah dimiliki begitu saja.

BACA JUGA:Sajikan Pemikiran 12 Tokoh Filsafat Dunia lewat Reality Show, Henry Manampiring: Pilih Filsuf Favoritmu

BACA JUGA:Jumlah Jari Naga dalam Kelenteng, Maknai Filsafat Konfusius

Praktik tersebut juga berbeda dengan sekadar memerintahkan diri sendiri untuk bersyukur. Manusia diajak membayangkan kehilangan sesuatu yang berharga. Sehingga perhatian terhadap nilainya dapat muncul secara lebih alami.

Penelitian modern mengenai rasa syukur menunjukkan hasil yang searah, meski tidak dapat disimpulkan secara berlebihan.

Penelitian Robert Emmons dan Michael McCullough membuktikan hal itu. Keduanya mengundang sekumpulan orang. Berkelompok.

Mereka diminta mencatat hal-hal yang disyukuri. Lalu menunjukkan peningkatan kesejahteraan pada beberapa ukuran. Peningkatan suasana hati positif merupakan salah satu temuan paling kuat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: space daily