Pendekar Tunggal

Pendekar Tunggal

ILUSTRASI Pendekar Tunggal.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Setelah Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, NU melahirkan KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Idham Chalid, KH Abdurrahman Wahid, KH Hasyim Muzadi, KH Ma’ruf Amin, dan KH Said Aqil Siroj. 

Mereka tidak lahir dari cetakan yang sama. Punya karakter, medan perjuangan, dan kecakapan berbeda.

Zaman ini adalah zamannya Gus Yahya, Gus Ipul, Nusron Wahid, dan Cak Imin. Mereka merupakan santri-politisi yang tumbuh dari panggung berbeda-beda.

Gus Yahya tumbuh melalui jalur pesantren, pemikiran keagamaan, diplomasi internasional, dan struktur syuriah. Gus Ipul ditempa GP Ansor, parlemen, kementerian, pemerintahan daerah, dan birokrasi negara. 

Nusron Wahid berkembang melalui organisasi mahasiswa, Partai Golkar, parlemen, dan pemerintahan. Cak Imin membangun kekuatannya melalui organisasi mahasiswa, parlemen, partai politik, kementerian, dan mesin elektoral nasional.

Di muktamar, ketangguhan mereka diuji. Bertemunya kepemimpinan spiritual, keterampilan organisasi, modal politik, jaringan pesantren, dan akses kekuasaan. Muktamar hampir tak pernah menjadi forum administratif biasa. Ia selalu menjadi arena pertarungan pengaruh berbalut bahasa khidmah.

Muktamar Jombang memperlihatkan siapa yang paling siap menguasai gelanggang. Kali ini orang itu adalah Gus Ipul. Ia berhasil menempatkan dirinya di pusat seluruh arus organisasi. Akan tetapi, sejarah NU mengajarkan bahwa tidak ada pendekar tunggal yang berkuasa untuk selama-lamanya.

Hari ini seseorang menjadi pengendali gelanggang. Besok bisa muncul pendekar baru dari tempat yang tidak diperhitungkan. Bisa dari pesantren kecil, dari anak muda NU, dari aktivis perempuan, dari intelektual kampus, dari pelaku ekonomi, atau dari orang yang selama ini bekerja diam-diam di luar pusat kekuasaan.

Sifat cair itu adalah kekuatan sekaligus kerentanan NU. Kekuatan karena membuat NU tidak mudah ditaklukkan satu orang, satu keluarga, satu partai, maupun satu rezim. Kerentanan apabila energi organisasi terlalu banyak tersedot ke dalam persaingan para pendekar.

NU tentu tidak boleh dikendalikan hanya oleh beberapa orang santri-politikus. NU bukan sekadar pengurus besar di Kramat Raya. Bukan hanya muktamar, konferensi wilayah, konferensi cabang, atau susunan kepengurusan. 

NU adalah ratusan juta warga yang memercayakan pendidikan anaknya kepada pesantren dan madrasah. Juga, menggantungkan kehidupan keagamaannya kepada kiai kampung dan menjaga tradisi Islam yang moderat dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, agenda NU ke depan tidak cukup berhenti pada persoalan siapa yang menjadi ketua umum, siapa yang mengendalikan sekretariat, atau siapa yang mempunyai akses paling dekat dengan istana. Tantangan NU jauh lebih besar daripada pertarungan jabatan.

NU menghadapi ketimpangan ekonomi, kemiskinan warga, lemahnya lembaga pendidikan, keterbatasan pelayanan kesehatan, perubahan iklim, disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, manipulasi informasi, konflik identitas, serta menguatnya oligarki politik dan ekonomi. Persoalan itu tidak bisa dijawab hanya dengan keterampilan memenangkan muktamar.

NU membutuhkan kemandirian ekonomi, penguatan kelembagaan, konsolidasi aset, peningkatan mutu pendidikan, dan pembangunan kader profesional. Organisasi itu harus mampu membiayai gerakannya sendiri sehingga tidak selalu bergantung kepada pemerintah, partai politik, pengusaha, maupun sponsor kekuasaan.

Kekuatan utama NU sepanjang sejarah justru terletak kepada kemandiriannya. Para kiai mendirikan pesantren dengan tanah dan sumber daya sendiri. Warga membangun madrasah dan masjid melalui gotong royong. Jamaah menghidupi organisasi melalui koin, infak, hasil pertanian, dan jaringan sosial. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: