Pendekar Tunggal

Pendekar Tunggal

ILUSTRASI Pendekar Tunggal.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

NU lahir bukan sebagai aksesori kekuasaan. Para pendirinya ikut membentuk Republik Indonesia dan menjaga negara ini pada berbagai fase sejarah. Karena itu, NU harus tetap menjadi kekuatan masyarakat sipil yang mandiri, kritis, dan punya keberanian moral.

Yang jelas, para pendekar boleh datang dan pergi. Mereka boleh bertarung dalam muktamar, membangun koalisi, berpisah jalan, lalu bertemu kembali. Namun, tidak boleh ada pendekar yang merasa lebih besar daripada NU. 

Gus Ipul kini menjadi pendekar tunggal muktamar Jombang. Gus Yahya telah membuktikan ketangguhan bertahan dari pengepungan. Cak Imin dan Nusron Wahid masih memiliki gelanggang serta kesempatan lain. Sejarah tentu belum selesai.

Sungguh saya merindukan empat pendekar itu bersatu. Untuk membangun kemandirian NU ke depan. Di bawah kepemimpinan KH Miftahul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. Memberikan manfaat lebih besar untuk umat dan bangsa. 

Saya juga rindu ditraktir Gus Ipul makan bareng dan pergi ke luar negeri bersama Gus Yahya. Atau, makan sego liwet bersama sambil lesehan di Ponpes Raudlatut Thalibin, Rembang –tempat Gus Yahya pulang kampung. Atau, melinting rokok bareng seperti sama-sama jadi mahasiswa di Jogja. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: