Pendekar Tunggal

Pendekar Tunggal

ILUSTRASI Pendekar Tunggal.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Dari situ saya berkeyakinan keduanya sulit disatukan lagi. Gus Yahya punya gaya dan keyakinan sendiri. Gus Ipul punya kepentingan dan kalkulasi sendiri. 

Puncaknya, Gus Yahya dipecat sepihak oleh Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar. Tapi, Gus Yahya berhasil lolos dari pelengseran di tengah jalan sebagai ketua umum PBNU.

Pada dasarnya, dua tokoh NU tersebut memiliki naluri politik masing-masing. Meski keduanya sama-sama pernah dikader langsung oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Perbedaannya terletak pada intensitas dan medan pengabdiannya. 

Gus Yahya sempat mengambil jarak dari politik praktis. Ia beberapa tahun belajar agama di Makkah. Lalu, mengurus pondok pesantren setelah ayahnya, KH Cholil Bisri, wafat. Selebihnya, ia berkiprah di PBNU sambil membangun jaringan internasional.

Gus Ipul terus berkarier di gelanggang politik meski tak tercatat sebagai pengurus partai. Selepas dari anggota DPR, ia menjadi menteri di kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kemudian, menjabat wakil gubernur Jawa Timur dua periode dan wali kota Pasuruan sebelum kembali menjadi menteri.

Pengalaman itu membuat Gus Ipul punya kelenturan politik sekaligus kemampuan teknokratis. Ia memahami struktur negara, birokrasi, partai politik, pesantren, serta psikologi para kiai dan pengurus NU. Ia bisa berbicara bahasa pemerintahan, tetapi juga mengerti bagaimana sebuah keputusan diterima di lingkungan pesantren.

Dalam muktamar Jombang, kelebihan itu terlihat makin terang. Gus Ipul hadir dengan tiga posisi sekaligus: sekretaris jenderal PBNU, pembantu presiden sebagai menteri sosial, dan ketua panitia muktamar. Tiga posisi itu menempatkannya sebagai pengendali utama gelanggang.

Ia menguasai administrasi organisasi, mesin kepanitiaan, komunikasi politik, dan akses kepada kekuasaan. Dengan posisi itu, ia sulit disaingi pendekar lainnya. Muktamar Jombang secara tak langsung mengukuhkan Gus Ipul sebagai pendekar tunggal muktamar.

Muhaimin Iskandar alias Cak Imin kali ini lewat. Nusron Wahid juga lewat. Keduanya tentu masih mempunyai pengaruh, jaringan, dan kepentingan terhadap arah NU. Namun, panggung utama muktamar Jombang tidak berada di tangan mereka. Panggung itu sepenuhnya berada dalam kendali Gus Ipul.

Tentu Gus Yahya tidak dapat dianggap habis. Justru dalam tekanan yang datang dari berbagai arah, ia menunjukkan daya tahannya. Ia lolos dari upaya pemecatan dan masih memiliki pendukung yang lumayan besar. Padahal, instrumen kekuasaannya relatif terbatas.

Saya suka menyebut modal Gus Yahya hanya wirid, jaringan kiai, dan keyakinan bahwa dirinya masih mempunyai legitimasi. Ia dikeroyok dari segala arah oleh para pendekar lain: Gus Ipul, Cak Imin, Nusron, dan berbagai kekuatan yang mempunyai jalur menuju struktur NU.

Namun, Gus Yahya tetap berdiri. Dalam tradisi pesantren, bertahan ketika dikepung juga merupakan bentuk kemenangan. Ketangguhan seorang pendekar tak selalu diukur dari kemampuannya menjatuhkan lawan. Kadang-kadang justru dari kemampuannya tidak roboh ketika dipukul dari berbagai arah.

Itulah NU. Organisasi tersebut sangat cair. Tidak ada satu kekuatan yang dapat mengendalikannya secara permanen. Struktur formal memang penting, tetapi NU tidak pernah sepenuhnya hidup di dalam struktur. 

Ia hidup di pesantren, langgar, masjid, majelis taklim, kelompok tahlil, jamaah salawat, lembaga pendidikan, pasar, kampung, dan jaringan kekerabatan para kiai.

Karena sifatnya yang cair, NU selalu melahirkan pendekar-pendekar baru pada setiap zaman. Mereka muncul dari panggung dan jalur yang berbeda. Ada yang tumbuh dari pesantren, organisasi kader, politik, pemerintahan, dunia intelektual, gerakan sosial, maupun jaringan internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: