Refleksi Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 10 September: Mendengar Tanpa Menceramahi

Refleksi Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 10 September: Mendengar Tanpa Menceramahi

Refleksi 10 September: mari dengarkan tanpa menceramahi dan saling bantu cegah bunuh diri.-Harian Disway-Nano Banana 2

BACA JUGA:Masyarakat Adat di IKN: Diingat saat Dibutuhkan, Dilupakan saat Politik Reda

Sayangnya, respons masyarakat saat menghadapi orang yang menderita secara psikologis sering kali justru mempertebal stigma. Kalimat seperti, “Kamu kurang bersyukur,” “Jangan terlalu dipikirkan,” atau “Kamu harus kuat,” kerap dilontarkan begitu saja.

Meski niatnya mungkin baik untuk memotivasi, bagi seseorang yang berada di puncak krisis, kalimat-kalimat tersebut justru terasa seperti pintu yang tertutup rapat. Mereka akhirnya memilih mengunci rapat mulutnya karena merasa tidak akan pernah dipahami.

Di titik inilah intervensi profesional dari psikolog menjadi krusial.

Psikolog klinis bukan sekadar teman untuk mencurahkan isi hati. Dalam menghadapi risiko bunuh diri, psikolog bertugas melakukan asesmen mendalam untuk mengukur tingkat krisis, mendeteksi adanya pikiran untuk mengakhiri hidup, melacak riwayat percobaan sebelumnya, serta memetakan tekanan sekaligus potensi dukungan (protective factors) yang masih dimiliki pasien.

Dari analisis itulah bentuk penanganan yang tepat bisa diputuskan—apakah cukup dengan pendampingan psikologis, perlu melibatkan keluarga, harus segera dirujuk, atau membutuhkan penanganan medis.

Pada kondisi tertentu, psikolog akan berkolaborasi dengan psikiater. Ketika pasien membutuhkan terapi obat atau menunjukkan gejala gangguan kejiwaan yang memerlukan intervensi medis, peran psikiater menjadi mutlak diperlukan.

Selain itu, psikolog juga membantu menyusun rencana keselamatan (safety plan). Ini bukan sekadar wejangan normatif untuk "berpikir positif", melainkan panduan konkret saat krisis datang: mengenali tanda-tanda bahaya pada diri sendiri, mencari cara aman untuk menenangkan diri, daftar orang terdekat yang bisa dihubungi, hingga memodifikasi lingkungan agar lebih aman dari benda berbahaya.

Untuk jangka panjang, psikoterapi membantu pasien mengurai pola pikir, mengelola emosi, serta menyembuhkan trauma, kecemasan, atau depresi yang selama ini menyiksa mereka.

Proses ini tidak bekerja lewat motivasi instan, melainkan sebuah proses terstruktur untuk membangun ketahanan diri, mengasah kemampuan memecahkan masalah, dan perlahan menumbuhkan kembali alasan untuk terus hidup.

Ruang gerak psikolog pun tidak terbatas di dalam ruang praktik saja. Di sekolah, mereka bisa membantu deteksi dini, menangani perundungan, dan melatih para guru.

Di kampus atau tempat kerja, mereka berperan membangun ekosistem pendukung yang sehat. Bahkan ketika kasus bunuh diri sudah terjadi, keluarga yang ditinggalkan tetap membutuhkan pendampingan (postvention) untuk mengatasi rasa duka, bersalah, marah, atau trauma yang tersisa.

Langkah maju telah diambil pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dengan menyediakan Healing119.id—sebuah layanan dukungan psikologis awal bagi masyarakat yang mengalami krisis emosional atau pikiran bunuh diri. Layanan ini bisa diakses cepat lewat telepon ke nomor 119 ekstensi 8 maupun melalui situs resminya.

BACA JUGA:Hidup di Negeri Risiko

BACA JUGA:Diungkap, Perilaku Tersangka Pembunuh Kakak-Adik di Banyuasin: Gaya Bulus Pelaku

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: