Refleksi Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 10 September: Mendengar Tanpa Menceramahi

Refleksi Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 10 September: Mendengar Tanpa Menceramahi

Refleksi 10 September: mari dengarkan tanpa menceramahi dan saling bantu cegah bunuh diri.-Harian Disway-Nano Banana 2

Namun, pertolongan tidak boleh baru datang saat seseorang sudah di ambang darurat. Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) juga menyediakan fitur “Cari Psikolog” untuk mempermudah masyarakat mengakses tenaga profesional terdekat di wilayahnya. Penguatan jejaring ini penting karena pencegahan yang efektif seharusnya dimulai jauh sebelum krisis mencapai puncaknya.

Kita membutuhkan dua jalur sekaligus: penanganan darurat saat krisis dan pendampingan yang berkelanjutan. Saluran hotline atau keberadaan psikolog saja tidak akan cukup jika keluarga, sekolah, tempat kerja, fasilitas kesehatan, dan masyarakat tidak saling terhubung untuk memberikan ruang aman.

Media massa juga memikul tanggung jawab besar. Pemberitaan seputar bunuh diri harus menyaring unsur sensasional, tidak merinci cara korban mengakhiri hidup, dan tidak menyederhanakan motifnya. Berita yang baik harus mampu memberikan konteks, menyertakan informasi saluran bantuan, serta menjaga martabat korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia tidak boleh menguap begitu saja sebagai pajangan poster atau tagar musiman di media sosial. Kita harus mulai membentuk budaya baru yang membolehkan orang untuk berani berkata, “Saya sedang tidak baik-baik saja.”

Kita mungkin tidak pernah tahu seberapa besar beban hidup yang disembunyikan oleh orang-orang di sekitar kita. Namun, kita bisa memulainya dengan satu pertanyaan tulus: “Kamu benar-benar baik-baik saja?”

Jika mereka menjawab “tidak”, tahan diri untuk tidak menceramahi atau menghakimi. Cukup dengarkan, temani, dan tuntun mereka untuk mendapatkan bantuan profesional.

Terkadang, seseorang memilih untuk bertahan bukan karena masalahnya mendadak hilang, melainkan karena ia akhirnya tahu bahwa ia tidak harus berjalan sendirian.

*) Guru Besar Psikologi Sosial Universitas Airlangga dan Rektor Universitas 45 Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: