Netanyahu dan Eisenkot Sama-Sama Gagal Capai 61 Kursi, Partai Arab Jadi Penentu

Netanyahu dan Eisenkot Sama-Sama Gagal Capai 61 Kursi, Partai Arab Jadi Penentu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara kepada para pendukungnya dalam acara malam pemilu Partai Likud pada 28 Oktober di Yerusalem.-Chris McGrath-Getty Images


GADI EISENKOT, pemimpin Partai Yashar, melambaikan tangan kepada para pendukungnya setelah hasil jajak pendapat awal pertama dalam pemilihan umum Israel diumumkan di Tel Aviv, Israel, pada 28 Oktober 2026. -Baz Ratner/AP-CNN

Mitra sayap kanan di blok-nya dan juga semua partai Yahudi menolak untuk gabung koalisi dan bekerja sama dengan partai Arab. Menurut BBC, Pemimpin Demokrat Yair Golan melihat "peluang untuk membentuk pemerintahan perubahan dalam kemitraan" dengan mereka.

BACA JUGA:Protes Kehadiran Netanyahu dalam Sidang Umum PBB, Susan Sarandon dan Hannah Einbinder Ditangkap NYPD

BACA JUGA:Bertemu Netanyahu, Jared Kushner Sepakat Bentuk Kelompok Kerja untuk Demiliterisasi Gaza

Klaim Likud dan Dugaan Dana Qatar

Di sisi lain, Netanyahu menolak pemerintahan yang bergantung pada partai Arab. "Dilarang, sungguh dilarang, membahayakan Israel dengan membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab anti-Zionis," katanya. 

Likud menuduh partai-partai Arab "mencuri" pemilu dan mengadu ke Komisi Pemilihan Umum Pusat (CEC) soal dugaan "penyuapan, ancaman, kekerasan, kecurangan", tanpa menyertakan bukti. CEC menyatakan akan memeriksanya. 

Terpisah, Ketua CEC Noam Sohlberg meminta Shin Bet menyelidiki dugaan pengaruh tidak patut lewat pendanaan asing tanpa rincian.

Harian Haaretz mengutip sumber yang menyebut komite menerima klaim bahwa Qatar mendanai peningkatan partisipasi pemilih Arab; klaim ini belum terverifikasi. Surat CEC tidak menyebut partai Arab. 

BACA JUGA:Perdamaian Gaza-Timur Tengah Terganjal di Yerusalem: Netanyahu Tolak Trump

BACA JUGA:Netanyahu Tolak Rencana Trump untuk Gaza, Israel Tak Akan Tarik Pasukan


BENJAMIN NETANYAHU berpidato di hadapan para pendukungnya setelah hasil jajak pendapat awal pertama diumumkan, di Yerusalem pada dini hari 28 Oktober 2026, selama pemilihan legislatif Israel. -Jewel Samad-AFP

Ketua Balad Sami Abu Shehadeh menyebutnya "fitnah darah yang rasis". Herzog menyerukan penyelidikan menyeluruh, tetapi mengingatkan, "Kita tidak boleh mencoreng seluruh komunitas yang berupaya menggunakan hak pilihnya." 

Jika Herzog gagal menemukan pembentuk pemerintahan kali ini, Israel bisa menghadapi pemilu ulang yang akan dilaksanakan tahun depan. (*)

*) Mahasiswa Magang Prodi Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional, Polinema

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: