Ampyang, camilan tradisional berbahan kacang dan gula merah, kini tampil lebih modern melalui PT Ampyang Jawa Indonesia. UMKM asal Karanganyar, Jawa Tengah, yang berdiri sejak 2016 ini menjadi binaan Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) untuk mengembangkan usaha sekaligus memperluas pasar. (Foto: Raka Denny/Harian Disway)
Kualitas produk dijaga melalui pemilihan bahan baku secara cermat dan pembelian dalam jumlah besar untuk menjaga konsistensi mutu. Ampyang Jawa juga menerapkan efisiensi produksi dengan mengolah produk yang mendekati masa kedaluwarsa menjadi sambal kacang. Dengan kemasan profesional, produknya dipasarkan secara offline dan online, dipesan instansi pemerintah serta perbankan, hingga menembus Resta 456 Salatiga melalui fasilitasi pasar YDBA. (Foto: Raka Denny/Harian Disway)
Bergabung dengan YDBA pada 2024, Ampyang Jawa mengikuti berbagai pelatihan dan pendampingan, mulai dari 5R, branding dan packaging, perpajakan, hingga pembukuan sederhana. Upaya tersebut mengantarkan Ampyang Jawa meraih predikat UMKM terbaik dalam penerapan 5R pada 2024, sebelum resmi menjadi UMKM Mandiri pada 2025. (Foto: Raka Denny/Harian Disway)
Kini, Ampyang Jawa mempekerjakan 15 tenaga kerja dan melayani sekitar 300 pelanggan setiap bulan. Tak hanya mengembangkan bisnis, perusahaan yang dipimpin Alif Arna Danan Abdul Faathir itu juga menggelar program open education bagi calon pensiunan perbankan hingga siswa TK dan SD. Sang pemilik turut aktif sebagai trainer dan penggerak UMKM makanan ringan di Kabupaten Karanganyar melalui berbagai organisasi, termasuk Kadin. (Foto: Raka Denny/Harian Disway)