AI Mengancam Identitas Lagu dan Hak Cipta Suara Musisi

Senin 17-03-2025,10:13 WIB
Reporter : Rifda Fadhillah *)
Editor : Heti Palestina Yunani

Dengan adanya AI, mengakibatkan teknologi menjadi lebih kompleks sehingga terciptanya audio deepfake sebagai salah satu bentuk kecanggihannya. Menurut Choi et al. (2024), alat ini dapat digunakan untuk mendukung pembuat konten, penyanyi, bisnis, industri periklanan ataupun hiburan.

BACA JUGA: Jawab Tantangan dan Peluang dengan AI, ICVIAS 2023 Usung Tema Artificial Intelligence for Community Development

Dalam tulisan Yi et al. (2023), audio deepfake secara umum merujuk pada suara apa pun yang telah dimanipulasi melalui teknologi AI, tetapi tetap terdengar alami seperti suara asli. Namun sungguh ironis, audio deepfake justru sering kali disalahgunakan untuk menciptakan disinformasi dan penipuan suara. 

Akibatnya, hak cipta suara musisi menjadi terancam karena karya mereka dapat direplikasi tanpa izin, tanpa royalti, dan tanpa kontrol atas bagaimana suara mereka digunakan. 

Lebih dari ancaman, ini juga adalah suatu polemik yang bukan hanya melanggar hak cipta, tetapi fenomena ini telah merusak identitas lagu, terutama jika AI digunakan untuk mengubah lirik atau aransemen sehingga menghilangkan makna dan esensi asli dari sebuah karya musik.

Dengan kata lain, akan semakin sulit membedakan antara audio palsu dan asli. Oleh karena itu, dengan meningkatnya permintaan untuk tindakan pencegahan terhadap penyalahgunaannya, diperlukan pertukaran interdisipliner yang berkelanjutan. Inilah sebabnya mengapa sistem yang dapat mendeteksi audio asli atau palsu dalam waktu singkat menjadi sangat penting.

BACA JUGA: Presiden Jokowi: Jangan Takut dengan AI, Menkominfo Susun SE Etika Artificial Intelligence

Regulasi Penggunaan AI


Regulasi AI berperan penting untuk menciptakan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan tanggung jawab sosial.-alexsl-Getty Images Signature

Dalam lanskap industri musik akan terus berkembang, AI telah memunculkan banyak kemungkinan transformatif. Akibat maraknya penyalahgunaan AI berpotensi merugikan pihak asli dan mengikis nilai seni yang seharusnya dilindungi.

Di sisi lain, adanya teknologi audio deepfake dapat menjadi bumerang jika digunakan secara tidak etis dalam pembuatan suara. Penggunaan atau pemalsuan suara musisi tanpa persetujuan mereka bukanlah satu-satunya tantangan yang perlu dihadapi saat ini.

Sangat disayangkan sampai hari ini, di Indonesia belum memiliki regulasi khusus terkait penggunaan AI. Regulasi berperan penting untuk menciptakan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan tanggung jawab sosial.

BACA JUGA: Keren! Kemenag Kembangkan Alquran Berbasis Artificial Intelligence

Namun, tidak adanya regulasi yang jelas dan komprehensif, AI semakin digunakan secara tidak bertanggung jawab, yang berpotensi merusak hak cipta, reputasi, dan integritas musisi serta identitas lagu.

Secara keseluruhan AI memang menjadi fenomena serius yang membawa dampak besar jika tidak diatur dengan baik. Dengan kata lain, industri musik akan berisiko kehilangan nilai orisinalitas dan keadilan bagi para musisi.

Ini bukan hanya masalah teknologi, tetapi batasan antara etika dan kreativitas dalam menciptakan karya musik.

Sinergitas AI di Industri Musik 


Industri teknologi dapat berperan dalam membuat sistem AI yang mempunyai batasan, lebih kredibel, dan lebih transparan.-Ivan Samkov-Pexels

Kategori :