BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (15): Hilyatul Auliya
Dalam relung waktu yang kini almanak sejarah menamakan sulamannya menjemput Idulfitri 1446 H yang mengiringkan doa adalah pilihan yang amat tahu diri.
Ada pula yang sibuk memadati jalanan sambil kluyar kluyur menghabiskan BBM dengan boncengan sepeda motor anak-anak yang disesaki asap kendaraan. Sebuah tragedi yang mewarnai lalu lintas dalam menyongsong Idulfitri 2025 mesti dipungkasi.
Petugas keamanan perlu disebar ke seluruh ruas jalan dan lahan republik ini. Dan kini terbaca dengan jelas polisi untuk masyarakat. Intinya begitu meski kata-katanya tidak persis amat.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (14): Momentum Bertahannuts
Kini di luar itu semua. Hadirnya anak-anak yang tawuran sarung atau antar kampung, jes ini anak-anak didik yang memanen derita ketumpulan pikir dan hati generasi dari keluarga yang melakukan itu.
Mungkin sel otak anak-anak itu terganggu akibat tersedak emisi gas buang kendaraan bermotor yang mengepul memenuhi langit-langit jalanan metropolitan.
Mengapa harus ada tawuran di bulan Ramadan? Mengapa mereka tidak lebih menepikan diri saja di sisi ruang keluarga untuk berdiam di pojok waktu rumahnya dengan menakar kapasitas anggota keluarganya serta bermunajat menyimpuhkan diri pada Tuhannya. Nderes mengaji dan beriktikaf.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (13): Perang Sarung
Sadari bahwa sejatinya untuk membuka lembaran baru itu tidaklah harus menunggu waktu berlama-lama hari, waktu setahun, melainkan setiap saat, setiap detik, setiap apa yang tersebut “nanti” adalah baru.
Sepersekian sekon apalagi sepersekian detik, menit maupun jam itu memberikan keniscayaan saat yang baru. Setiap jejak saat yang kita belum mengalaminya meski seperjuta sekon waktu adalah babakan baru sehingga setiap saat itulah hidup kita mestinya mengalami pembaruan-pembaruan lebih masalahat.
Ramadan adalah etape pembaruan jiwa. Adalah sebuah keanehan apabila manusia tidak menyadari bahwa hari-hari hidupnya sesunggunya hari-hari baru yang dijelajahi sambil menautkan ruhani dalam atmosfer Illahi.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (12): Ramadan dan Ingatan Nareswari
Setiap hari kita mestinya beridulfitri, alias menyicikan diri. Memperbarui diri. Dalam konteks ini saya teringat pesan utama Imam Al-Muhasibi yang wafat tahun 243 Hijriah-857 Masehi dalam kitabnya Adab al-Nufus agar manusia itu mengarungi hayatnya dengan selalu muhasabah (instrospeksi), muraja’ah (evaluasi) dan muraqabah (mawas diri).
Selamat menjemput Idul Fitri 1446 H dan menjadikan setiap saat yang nanti itu selalu baru bagi hidup yang berhikmah. (*)
*) Guru Besar Fakultas Hukum dan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup-SDA MUI Jatim, dan Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur