Ramadan Kareem 2025 (29): Khawatir Puasa Tanpa Huruf A dan Makna Lebaran

Ramadan Kareem 2025 (29): Khawatir Puasa Tanpa Huruf A dan Makna Lebaran

Perjalanan panjang ke kampung halaman adalah penanda Ramadan sedang menuju garis tepinya. Pertarungan sebagai insan beriman terus dibuncahkan. --iStockphoto

HARIAN DISWAY - Pembaca masih puasa, kan? Semoga saja tetap terjaga dan istikamah sebagai umat yang digolongkan Allah Swt beriman. Ramainya arus mudik ini mengesankan. Tetapi Ramadan mestinya jauh membekaskan kenangan.

Perjalanan panjang ke kampung halaman adalah penanda Ramadan sedang menuju garis tepinya. Pertarungan sebagai insan beriman terus dibuncahkan. Memang puasa hanya diwajibkan bagi hamba yang beriman.

Beriman dalam rasa maupun beriman dalam agama tidak perlu diperdebatkan. Tuhan Gusti Kang Murben Dumadi sudah ngendiko apabila kalian beriman maka puasalah untuk mencapai derajat tertinggi yang dinamakan takwa.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (28): Merekam Sundayana Nan Tirtasewana

Maka puasa Ramadan taun iki tidak lagi perlu diseminarkan memiliki relevansi dengan zaman modern atau tidak. Yang jelas dan harus haqqul yaqin adalah bahwa puasa harus diterima sebagai kewajiban yang musti dilakoni.

Pelaku puasa adalah mereka yang beriman dan hendak mencapai puncak kederajatan yang diwerdikan sebagai ketakwaan. Dalam hari-hari terakhir berpuasa ini apakah memang kita sudah merasa menjadi hamba beriman dan telah menggapai bahagia terindah yang bercorak takwa.

Takwa bagi saya bukan lagi sekadar menjalankan perintah Tuhan dan menjahui larangannya sebagaimana definisi umumnya, tapi justru sama-sama ”menjalankan perintah dan larangan Tuhan”.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (27): Terpanggil Kampung Halaman

Awas jangan terkecoh kemudian lantas melempar-lempar batu seperti suku Thaif di kala kedatangan Nabi Muhammad Saw sampai berdarah-darah. Menjalankan perintah dan menjalankan larangan berarti takwa sejati.

Menjalankan larangan itu bukan berarti melakukan apa yang dilarang melainkan menjalankan perintah yang berisi larangan Tuhan. Janganlah kamu mencuri. Maka jalankanlah perintah tersebut yang berarti kita tidak mencuri, dan bukan malah mencuri.

Kalau kita mencuri justru itu tidak menjalankan larangan yang diwujudkan dalam kata perintah Tuhan, tetapi menjauhi sabda sucinya. Sudah-sudah hal ini tidak perlu saya perpanjang.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (26): Mudik, Ingat Gaza

Sebab akan memasuki wilayah wingit filsafati yang membuka ”luka sejarah” perdebatan antara paham-paham yang berbasis logika Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dengan semua pengikutnya yang berhadapan dengan aliran yang bermuara di ”bukit” cendekiawan muslim Al-Farabi berikut rombongannya.
Ramainya arus mudik ini mengesankan. Tetapi Ramadan mestinya jauh membekaskan kenangan. -Boy Slamet-Harian Disway

Apabila kita sebagai umat telah diwajibkan berpuasa maka berpuasalah tanpa perlu lagi logika dengan ilmu mantiq segala yang lazim dipamerkan oleh sejawatku sewaktu jadi santri anyaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: