Ramadan Kareem 2025 (29): Khawatir Puasa Tanpa Huruf A dan Makna Lebaran

Ramadan Kareem 2025 (29): Khawatir Puasa Tanpa Huruf A dan Makna Lebaran

Perjalanan panjang ke kampung halaman adalah penanda Ramadan sedang menuju garis tepinya. Pertarungan sebagai insan beriman terus dibuncahkan. --iStockphoto

Puasa merupakan kebutuhan speritual untuk mengenyangkan tingkat produktivitas kehidupan yang harus tetap terjaga serta semakin meningkat. Jangan sampai dengan puasa kemudian banyak tertidurnya dan bermalas-malasan.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (25): Saatnya Mudik

Apabila ini yang terjadi sehingga surau dan musala serta masjid-masjid (apalagi sebelah kantor pemerintahan) yang memotret banyak jamaah yang klesetan. Maka sesungguhnya kita semua sedang gagal menjalankan amanat puasa sebagai media pemberdayaan ketuhanan yang prima.

Puasa harus produktif sebagaimana telah disejarahkan dalam setiap deret keberhasilan Kanjeng Nabi Muhammad Saw dalam membangun umat maupun pada zaman kemerdekaan.

Bukankah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu berlangsung di bulan 9 Ramadan 1367 H? Dengan Ramadan justru negara merdeka dan umat dibebaskan menggali ajaran mulia manusia agung kang jejuluk Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (24): Ramadan, Aku Berguru kepada Ibrahim

Kalau kita tidak bisa meneladani gairah historis tersebut patut dicatat, jangan-jangan puasa kita tanpa huruf a alias ”pus” saja. Kata ”pus” dalam bahasa kampung saya, ya berarti ”kosong melompong”. Puasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata. 

Nah puasa yang tanpa huruf A apakah masih menantikan kepantasan beridulfitri? Lebaran. Semua tahu. Itulah hari Idulfitri yang sejak mulanya bermuatan sebagai hari kemenangan.

Istilah lebaran memang menjadi sinyal leburnya semua dosa dan lubernya segala amal atas prestasi puasa Ramadan. Lebaran menjadi suatu peristiwa mahahebat yang mengesankan bahwa hidup pada saat cici wancine dan cokro manggilingane sedang mengalami rotasi paling hakiki yang berupa kefitraan (kesucian) diri.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (23): Menjemput Kebaruan

Tidak ada kesucian tanpa awal pengembaraan yang mendebarkan. Puasa Ramadan (yang tetap pakai huruf A) merupakan babakan sejarah kemanusiaan dan sekaligus ketuhanan yang begitu menggemparkan jagat spiritualitas sejati.

Munculnya sesi lebaran alias Idulfitri hanyalah titik kulminasi kemenangan muslim yang sejatinya terpilih sebagai insan kamil (manusia mulia). Lebaran merupakan titik batas hadirnya episode terakhir Ramadan.

Pastinya terjadi di 1 Syawal, termasuk di tahun 1446 H. Ramadan sejatinya dititahkan sebagai gelanggang pemantapan diri bagi mereka yang hendak mencapai derajat berjenjang untuk sampai pada tahapan takwa. Masya Allah.

BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (22): Merawat Air

Muslim menjadi mafhum sepaham-pahamnya bahwa pada akhir cerita Ramadan pada aslinya memang berupa Lebaran yang bahasa gaulnya kosong-kosong yang di daerah saya lazim juga dikampanyekan dengan guyonan jembuk-jembuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: