Ramadan Kareem 2025 (29): Khawatir Puasa Tanpa Huruf A dan Makna Lebaran

Perjalanan panjang ke kampung halaman adalah penanda Ramadan sedang menuju garis tepinya. Pertarungan sebagai insan beriman terus dibuncahkan. --iStockphoto
Kita semua menjadi kembali pada titik nol yang melingkar tanpa awal dan akhir. Nol adalah hakikiah kehayatan yang Tuhan sedang berekspresi dengan kuasanya.
Kosong alias nol bukan berarti tanpa isi yang bersifat maknawi tetapi sebuah kiasan untuk mengatakan bahwa pada pusaran kehidupan selalu di ujungnya acapkali tidak dapat diketahui mana awal dan akhirnya, meski kita semua ada dalam putaran hidup yang sama.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (21): Tepukan Sang Resi
Lebaran bagi kita mestinya merupakan wahana untuk saling mengenal pribadi dan jati diri sendiri sebelum mengenal yang lain dalam gerbong nolnya ketentuan Tuhan.
Sisi kehidupan memang menawarkan banyak ragam kesan untuk tidak mengatakan bahwa Idulfitri bukan sekadar ritual tahunan yang mampu mendongkrak demonstrasi ekonomi negara secara serius.
Idulfitri adalah janji Tuhan untuk membebaskan manusia dari keakuannya. Dengan Lebaran memang semua sendi kehidupan menjadi bergerak kencang sebagai tanda bahwa betapa murahnya Gusti Allah untuk selalu paring pada kehidupan agar terus meneteskan harapan.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (20): Mencari Surabaya saat Ramadan
Lebaran hendaknya juga tidak sekadar tetenger bahwa hidup punya saat-saat puasa yang padanya juga ada saat-saat bergembira. Lebih dari itu adalah ada pesan historis yang melembaga dalam agama yang berupa tetanda wal ashri.
Yakni demi waktu manusia akan merugi apabila tidak segera putar haluan (bagi yang tersesat) untuk menemukan jalan lurus (ihdinashiratal mustaqim). Kelurusan yang dimaksud adalah pengembaraan untuk mencari jalan takdir yang terdekat pada ”mata dan tangan” Tuhan, sehingga mudah terlihat atas-Nya.
Hidup mesti bergandeng tangan dengan segala tuntutan nasib ataupun nasab. Antara nasib dan nasab menjadi garis edar genetika (keturunan) yang terkadang berbelah.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (19): Ngaji Multifungsi TNI
Tuhan pada Lebaran ini mungkin sedang ”bermain mata” pada umat-Nya untuk diajari saling menyapa dan saling menjaga rasa agar saling mengenang apa yang pernah dirasakan.
Lebaran harus diterima sebagai ”tangga nada” keheningan ruhani untuk mawas diri sekaligus sebagai panggung kebahagiaan karena di belahan Lebaran ada gemerlap nasib manusia untuk saling eling yang dianggap liyan.
Lebaran bukan sekadar bermaaf-maafan semata dengan menghabiskan jajan sanak saudara. Melainkan sebuah titian panjang untuk segera menemukan jalan kemuliaan bahwa hidup kita ternyata tidak sendirian.
BACA JUGA: Ramadan Kareem 2025 (18): Banjir yang Terundi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: