Kisah 7 Pahlawan Nasional Nonpribumi yang Cinta Tanah Air

Minggu 09-11-2025,23:32 WIB
Reporter : Wardah Nur Afriliyah*
Editor : Indria Pramuhapsari


SHIGERU ONO (kiri) lahir di Karafuto, Jepang pada 1918. Ia adalah tentara Jepang yang membelot dan berpihak pada Indonesia. -Hiroaki Samsi Watanabe-Facebook

Lahir di Karafuto, Jepang pada 1918, Shigeru Ono adalah seorang tentara Jepang yang membelot dan berpihak pada Indonesia. Setelah Jepang kalah, ia menolak pulang dan memilih untuk menetap di Indonesia.

Ia membantu perjuangan Indonesia menggunakan katana-nya bersama Pasukan Gerilya Spesial di bawah pasukan Untung Suropati. Ia adalah relawan Jepang terakhir yang selamat dalam Revolusi Nasional Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, Ono tetap tinggal dan menikah dengan warga Indonesia. Ia dikenal aktif dalam kegiatan pendidikan dan kemanusiaan di Jawa Barat hingga akhir hayatnya dengan nama Rahmat Shigeru Ono.

BACA JUGA: DPRD Jatim Dukung Marsinah Jadi Pahlawan Nasional, Momentum Benahi Sistem Ketenagakerjaan

BACA JUGA: Yusril Dukung Daud Beureu’eh Jadi Pahlawan Nasional

7. H.J.C Princen (Poncke Princen)


PONCKE lahir di Belanda pada 1925 dan awalnya merupakan tentara Belanda yang dikirim untuk memadamkan perlawanan di Indonesia. -Ron Giling-Arsip Nasional Belanda

Poncke lahir di Belanda pada 1925 dan awalnya merupakan tentara Belanda yang dikirim untuk memadamkan perlawanan di Indonesia. Ia bergabung dalam tentara kerajaan Hindia Belanda KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger).

Karena Poncke sudah muak melihat sikap dan kebrutalan yang terjadi pada pribumi, ia akhirnya memilih untuk membelot, keluar dari KNIL, dan bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia.

Poncke menjadi salah satu pejuang yang memperjuangkan hak asasi kemanusiaan setelah kemerdekaan, bahkan setelah ia beberapa kali dipenjara karena vokalnya terhadap pemerintahan.

Ia mengabdikan hidupnya di Indonesia hingga wafat pada 2002.

BACA JUGA: Gus Mus Tolak Rencana Pemberian Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto

BACA JUGA: Parade Juang Surabaya 2025: Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Wadah Mengenang Pahlawan dan Belajar Sejarah

Kisah-kisah itu menunjukkan bahwa cinta terhadap Indonesia tidak mengenal darah, warna kulit, atau garis keturunan.

Mereka adalah bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan bersifat universal, yakni siapapun yang memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan kebebasan adalah bagian dari Indonesia.

Kategori :