Hal itu menunjukkan bahwa publik tidak lagi memisahkan antara etika privat dan etika publik. Kita masuk ke era saat empati berubah menjadi kebencian kolektif karena rasa dikhianati keteladanan yang semu.
REFLEKSI: MENANAM BENIH DI TANAH YANG GERSANG
Rentetan peristiwa sepanjang 2025 harus kita baca sebagai cermin retak yang menunjukkan siapa kita sebenarnya. Bencana-bencana nirfisik itu adalah peringatan bahwa kemajuan fisik tanpa penguatan karakter bangsa hanyalah kerentanan yang tertunda.
Belajar dari 2025, kita mesti sadar bahwa kedaulatan tidak boleh diserahkan kepada algoritma asing, demokrasi tanpa literasi hanya akan melahirkan anarki, dan kekuasaan tanpa empati adalah tirani terselubung.
Menyongsong tahun-tahun depan, kita tidak boleh membiarkan siklus itu berulang. Agenda utama kita bukanlah sekadar membangun beton, melainkan membangun kembali ”infrastruktur integritas”.
Jangan sampai kita menjadi bangsa yang hanya belajar dari satu bencana ke bencana lain tanpa pernah benar-benar menjadi dewasa. (*)
*) Yayan Sakti Suryandaru adalah dosen di Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga, Surabaya.