Yang kurang adalah keberanian mengambil keputusan berbasis bukti, serta komitmen kolektif untuk mengutamakan kepentingan umum di atas kenyamanan individu.
Dengan pendekatan berbasis data, transportasi publik yang andal, dan kolaborasi multi-pihak, Surabaya masih punya peluang menjadi kota metropolitan yang efisien, layak huni, dan berkelanjutan.
Tapi waktu tidak menunggu. Setiap hari yang terbuang di kemacetan adalah hari di mana Surabaya kehilangan potensinya sebagai ibu kota ekonomi Jawa Timur. (*)