KETIKA saya hadir di Kongres III Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Bali tahun 2010, Megawati berbicara dari sebuah posisi yang, dalam politik Indonesia, jarang dipilih secara sadar: berada di luar kekuasaan, tetapi tidak melepaskan tanggung jawab sejarah.
Pidato saat itu tidak hanya memancarkan kegundahan, tetapi juga keyakinan bahwa ideologi dapat menjadi jangkar di tengah demokrasi yang cair dan pragmatis.
Pidato kongres 2010 saya pahami sebagai pidato pilihan posisi. Ada kegundahan yang jujur tentang demokrasi yang terjebak dalam prosedural dan politik transaksional, ada otokritik atas kelemahan internal partai, dan ada keberanian untuk menyatakan bahwa kekuasaan bukan satu-satunya jalan menuju relevansi politik.
BACA JUGA:Terobos Banjir Jakarta, Politisi PDIP Jatim Hadiri Rakernas I di Ancol
BACA JUGA:329 Anggota DPRD Laporkan Kinerja ke Rakyat, PDIP Jatim: Perkuat Bonding ke Rakyat
Trisakti Bung Karno diletakkan sebagai horizon etik, bukan sekadar warisan simbolis, tetapi sebagai tawaran praksis politik yang berbeda. Saat itu ideologi bekerja sebagai alat pembeda, sebagai garis demarkasi yang jelas antara PDI Perjuangan dan arus utama politik pascareformasi.
Bahkan, secara jujur saya harus mengakui bahwa pidato kongres III adalah pidato terbaik Megawati selama ini yang memukau banyak pihak.
Lima belas tahun berselang, dalam rakernas 2026 lalu, saya membaca Megawati dari teks tertulis. Posisi membaca itu penting dicatat. Saya tidak lagi berada di ruang kongres, tetapi di hadapan dokumen yang disusun dengan penuh kesadaran historis.
BACA JUGA:HUT ke-53 PDIP, Deni Wicaksono: Satyam Eva Jayate Jadi Jangkar Kebenaran Partai
BACA JUGA:Fraksi PDIP DPRD Tulungagung Paparkan Kinerja 2025 lewat Laporan kepada Rakyat
PDI Perjuangan kini tidak sedang memerintah. Kekuasaan eksekutif berada di tangan Presiden Prabowo Subianto dengan koalisi yang dipimpin Gerindra. Secara formal, PDIP berada di luar pemerintahan.
Namun, ia juga tidak berada pada titik nol kekuasaan. Satu dekade pengalaman berkuasa (2014–2024) meninggalkan warisan struktural, simbolis, dan psikologis yang tidak serta-merta hilang.
Megawati Soekarnoputri, seorang pemimpin yang tahun ini berusia 79 tahun, dengan pengalaman panjang memimpin partai dan negara, berbicara bukan lagi dari pinggiran, melainkan baru saja keluar dari pusaran kekuasaan.
BACA JUGA:Temui Kanang di Rumah Aspirasi Rakyat, Pengurus DPC PDIP Magetan Bahas Soliditas Kader
BACA JUGA:DPC PDIP Tulungagung Buka Ruang untuk Gen Z dalam Struktural Partai