Tapi, Teheran juga babak belur di dalam.
Inggris ikut nimbrung. GCHQ melepaskan hantu siber bernama Scarlet Emperor. Kaisar Merah.
Alat itu sadis. Ia membanjiri HP para jenderal Iran dengan jutaan sinyal palsu.
Bayangkan, saat genting, komandan mau teriak ”tembak”. Eh, HP-nya hang. Layar gelap. Sinyal GPS lari ke Samudra Hindia. Radio militer penuh suara kresek-kresek.
Rantai komando putus. Pasukan di bawah bengong. Rudal batal terbang karena tidak ada perintah.
KARTU MATI DI SELAT SEMPIT
Jadi, siapa pemenangnya?
Belum ada. Papan catur masih terkunci.
Trump sudah mengamankan pinggiran. Tetangga Iran sudah ”dibeli”. Mesir dan Arab Saudi masuk ”Dewan Perdamaian”. Artinya: tutup mulut. NATO juga sudah dijinakkan.
Sekjen NATO Mark Rutte sibuk jaga pagar di Kutub Utara. Tidak akan ikut campur urusan gurun pasir.
Iran sendirian di tengah ring. Benar-benar sebatang kara untuk sementara.
Namun, Iran masih pegang satu kartu mati: Selat Hormuz.
Kalau Trump nekat menebas leher, Iran bakal mengamuk buta. Mereka tidak perlu menang perang udara. Cukup tenggelamkan satu atau dua kapal tanker minyak di selat sempit itu.
Harga minyak mentah bakal loncat ke 200 dolar AS per barel. Ekonomi AS rontok. Inflasi meledak. Rakyat AS menjerit. Trump, sebagai pedagang, paling takut skenario tersebut. Rugi bandar.
Rasanya seperti di lorong ruang operasi. Lampu merah menyala. Kita menunggu vonis dokter dengan lutut gemetar.
Di landasan pacu, mesin 13 tanker itu sudah menderu. Pilotnya sudah pasang masker oksigen. Di bunker Teheran, jari para jenderal sudah gatal di atas tombol peluncur rudal-rudal antikapal.