Jam Nol Teheran

Jumat 23-01-2026,08:15 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte*
Editor : Yusuf Ridho

Trump ingin copy-paste skenario itu ke Iran. Ia ingin para Mullah bangun pagi dan sadar bahwa atap istana mereka sudah bolong.

LANGIT BETON DI TEHERAN

Namun, Iran bukanlah Venezuela.

Para Mullah di Qom itu politisi kawakan. Kulitnya badak. Otaknya kancil. Sudah 40 tahun dikeroyok sanksi, mereka tetap tegak.

Minggu ini mereka menampar balik teknologi Barat.

Dunia memuja Starlink. Internet satelit punya Elon Musk. Katanya antiblokir. Katanya dewa teknologi.

Oleh Iran, dewa itu dibikin buta.

Caranya cerdas setengah mati. Iran tidak menembak satelitnya. Kejauhan. Mahal. Mereka cekik titik lemahnya di darat: sinyal GPS.

Ternyata piringan canggih Starlink itu butuh GPS untuk tahu kiblatnya di langit. Iran menyalakan jammer militer. Frekuensi dibanjiri sampah elektronik. Akibatnya, 80 persen Starlink di sana mati total. Langit Iran jadi beton.

Pentagon terbelalak. Teknologi triliunan dolar keok oleh pengacak sinyal rakitan. Iran mengirim pesan keras: ”Kalian kuasai angkasa, kami kuasai tanah. Jangan macam-macam.”

KAISAR MERAH

Perang intelijennya lebih gila lagi. Skor sementara imbang: 1-1.

Israel, yang katanya punya mata di mana-mana, kebobolan parah. Dinas rahasia Shin Bet minggu ini panen tangkapan. Naik 400 persen. Pelakunya bukan orang asing. Warga Israel sendiri ternyata.

Bahkan, ada anggota pasukan elite Brigade Givati yang diciduk. Ia jual foto pangkalan militer ke musuh.

Bayarannya? Receh cukup.

Iran main jurus ”iseng-iseng berhadiah”. Warga Israel ditawari duit kripto lewat Telegram. Kerjanya enteng, bayarannya lumayan. Murah meriah. Hasilnya? Penjara penuh sesak oleh amatiran yang jadi pengkhianat karena butuh uang rokok.

Kategori :