Saat Indra memberikan keterangan pers, Tim Jatanras Polda Jateng sedang membawa tersangka dari Kudus ke Boyolali. ”Motor Scoopy yang diduga dicuri pelaku sudah kami amankan saat penangkapan tersangka di Kudus. Kronologi dan motif masih kami dalami,” ujar Indra.
Mayat korban Adisa sempat diautopsi di RS dr Moewardi, Solo. Hasilnya, penyebab kematian karena tenggelam dalam air. Jenazah dikembalikan ke rumah keluarga oleh polisi Jumat dini hari, 30 Januari 2026.
Sebelum bocah itu dimakamkan, Purwanto tiba di desanya, dari Singkawang. Ia lunglai saat tiba di halaman rumahnya. Ia berteriak histeris memanggil nama anak dan istrinya. Ia berjalan masuk ke rumah dipapah beberapa tetangga. Saat melihat jenazah Adisa, tangisnya meledak.
Adisa dimakamkan di dukuh tersebut, hari itu juga. Purwanto lemas terkulai saat liang lahad ditutup tanah.
Purwanto tahu proses sebelum perampokan-pembunuhan itu. Beberapa menit sebelum kejadian, ia di Singkawang berkomunikasi video call dengan istri di Dukuh Pengkol.
Di saat komunikasi berlangsung, Purwanto mendengar suara orang bertamu di rumahnya di Dukuh Pengkol. Ia kenal suara itu, suara tetangganya, Agus. Dalam komunikasi, Daryanti juga memberitahukan bahwa Agus datang bertamu.
Namun, beberapa menit kemudian komunikasi terputus. Purwanto menelepon HP Daryanti, tidak diangkat. Berkali-kali tidak diangkat.
Maka, Purwanto melihat kondisi rumahnya melalui CCTV rumah yang terhubung ke HP-nya. Benar. Tampaklah Agus datang marah-marah sambil membawa pisau. Pasti, Purwanto panik, tapi tak berdaya.
Kepala Dusun Pengkol Sarjono kepada wartawan menjelaskan, lokasi rumah Purwanto memang agak terpencil. Di tengah kebun pohon jati miliknya. Memang sejuk dan asri. Tapi, jauh dari tetangga. Jarak terdekat dengan rumah tetangga sekitar 60 meter. Tetangga berikutnya sejauh itu lagi.
Sarjono: ”Mungkin korban ibu Daryanti berteriak minta tolong. Kejadiannya sebelum jam dua belas siang. Jadi, mestinya banyak orang. Tapi, mungkin tetangga tidak mendengar karena jaraknya jauh.”
Purwanto di Singkawang panik sendiri. Ia tak bisa menolong istrinya. Maka, ia segera menelepon adiknya, Ngatirin, yang tinggal di Dukuh Pengkol, tak jauh dari rumah Purwanto. Ia minta bantuan darurat agar Ngatirin menolong Daryanti.
Sialnya, HP Ngatirin tidak bisa dihubungi Purwanto.
Ngatirin kepada wartawan menceritakan, saat ditelepon Purwanto, ia sedang tidak membawa HP. Karena itu, telepon dari kakaknya tak terjawab. Purwanto lalu menelepon istri Ngatirin.
Ngatirin: ”Istri saya dibel sama Mas Pur. Katanya, saya disuruh cepat-cepat ke rumahnya. Pokoknya gawat. Istri saya panik, sambil bilang gawat… gawat… Entah gawat apa. Maka, saya cepat-cepat ke rumah Mas Pur.”
Tiba di sana, Ngatirin melihat Daryanti berdarah-darah. Tampak luka menganga di leher Daryanti. Ngatirin panik sekaligus ngeri. Ia kebingungan. Tercengang.
Di saat ia bingung, Daryanti mengatakan ke Ngatirin begini: