Pada konteks itulah, kita melihat nilai-nilai filantropi tumbuh subur. Filantropisme merupakan implementasi dari ajaran agama yang menekankan pentingnya tolong-menolong (the theology of al-ma’unism).
BACA JUGA:Mitigasi Gelombang Bencana Inkompetensi Kepemimpinan: Renungan Awal 2026
BACA JUGA:Gajah di Tengah Bencana Alam
Teologi al-ma’un merujuk pada ajaran yang termaktub dalam Al-Qur’an surah ke-107, yakni Al-Ma’un. Ayat-ayat dalam surah Al-Ma’un mengajarkan semangat berbagi, kedermawanan, dan kesukarelaan.
Bahkan, ditegaskan dalam surah Al-Ma’un bahwa orang-orang yang menghardik anak yatim, tidak memberi makan fakir miskin, dan enggan menolong sesama, digolongkan sebagai pendusta agama.
Rasanya, semua agama mengajarkan pentingnya menolong sesama. Spirit ajaran agama itu benar-benar hadir di tengah kondisi bangsa yang sedang menghadapi bencana alam.
Karena itulah, tidak mengherankan jika lembaga Gallup International dan Charity Aid Foundation dalam beberapa survei mutakhir tentang World Giving Index selalu menempatkan Indonesia sebagai negeri paling dermawan di dunia.
Beberapa indikator yang menjadi penilaian dua lembaga tersebut meliputi komitmen pemerintah, lembaga-lembaga sosial, dan elemen masyarakat untuk menolong sesama.
Sebagai bangsa, kita layak bersyukur karena di negeri tercinta ada begitu banyak lembaga sosial dan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang profesional dan kredibel. Sebagai contoh, Lazismu (Muhammadiyah), Lazisnu (NU), Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, dan Baitul Mal Hidayatullah.
Pemerintah juga memiliki Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dengan jaringan mulai pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota. Lembaga-lembaga sosial itu memobilisasi donasi dari masyarakat untuk disalurkan kepada korban bencana.
Bahkan, gairah membantu sesama tidak hanya untuk korban bencana di tanah air, tetapi juga negara lain yang ditimpa musibah. Nilai-nilai kedermawanan sesama anak bangsa penting terus dirawat.
Apalagi, negeri ini sering dikatakan sangat rawan bencana karena berada di jalur cincin api Pasifik (ring of fire). Indonesia juga menjadi salah satu negara yang paling aktif secara seismik di dunia.
Kondisi tersebut disebabkan posisi Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Dampaknya, negeri ini sering mengalami gempa bumi, letusan gunung berapi, dan berpotensi terjadi tsunami.
Sebagai peringatan dini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga memprediksi bahwa masih ada 21 dari total 68 gunung berapi di Nusantara yang berpotensi menghadirkan bencana.
Beberapa daerah juga diindikasi rawan gempa bumi. Hal itu berarti bencana alam berpotensi terjadi di sejumlah daerah. Pada konteks itulah, komitmen sesama anak bangsa terhadap nilai-nilai kemanusiaan benar-benar diuji.
Dengan tanpa pamrih, berbagai elemen masyarakat menyumbangkan sebagian hartanya untuk meringankan saudaranya yang tertimpa musibah. Bukan hanya logistik, bantuan juga diberikan dalam bentuk kesehatan dan pendampingan psikologi terhadap korban bencana.