AI sebagai Daya Perang

Sabtu 23-05-2026,11:26 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte*
Editor : Yusuf Ridho

Hanya urusan magnet kecil. Tapi, tanpa magnet itu, rudal canggih tidak bisa mengarah. Radar tidak mau berputar. Pesawat nirawak seharga miliaran dolar AS cuma jadi besi tua terbang.

Lapis Kedua: Listrik

Lalu, kita masuk lapis kedua: setrum.

Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan kebutuhan listrik untuk pusat data dunia bakal naik dua kali lipat pada 2030. Butuh 945 terawatt-jam.

Di AS, antrean untuk pasang sambungan listrik gardu baru bisa tiga sampai lima tahun. Padahal, melatih AI? Cuma butuh tiga bulan.

Ketimpangan itu mengubah listrik jadi ”gubernur” kedaulatan.

Siapa yang tidak bisa menjamin pasokan listriknya, jangan mimpi punya AI sendiri. Jalan pintasnya? Reaktor nuklir dihidupkan lagi.

Constellation energy rela memanaskan ulang reaktor crane clean energy center. Khusus untuk melayani Microsoft.

Reaktor tua. Dinyalakan lagi. Demi AI.

Lapis Ketiga: Chip

Lapis ketiga: pabrik chip.

Piringan wafer-nya boleh saja dicetak di Arizona, AS. Tapi, kalau mengemasnya masih numpang di Taiwan, itu namanya bukan chip berdaulat. Itu chip turis. Cuma lewat Taiwan.

Maka, pabrik Amkor di Arizona dikebut. Fasilitas pertama mulai jalan pertengahan 2027. Produksi awal 2028.

NVIDIA ikut pasang kuda-kuda.

Masuk ke Lumentum dan Coherent. Seluruh ekosistem NVLink Fusion dirancang melintas di situ.

Lalu, Marvell mengawal proyeksi pendapatan Celestial: 500 juta dolar AS di akhir 2028, dan tembus 1 miliar dolar di 2029.

Kategori :