Konservasi Danau Harus Berarti Konservasi Ikan
Konservasi danau tidak boleh berhenti pada penanaman pohon atau membersihkan sampah di tepi danau. Konservasi harus menyentuh seluruh ekosistem: air, sedimen, vegetasi, plankton, ikan, burung, hingga manusia. Masyarakat nelayan dan pembudi daya harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi.
Pengetahuan lokal tentang musim ikan, lokasi pemijahan, perubahan muka air dan kondisi lingkungan sangat berharga. Pengetahuan tersebut dapat dipadukan dengan penelitian ilmiah sehingga keputusan pengelolaan tidak hanya berasal dari kantor pemerintahan atau laboratorium, tetapi juga dari pengalaman masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan danau.
Pada akhirnya, Hari Danau Sedunia seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Danau perlu diperlakukan sebagai aset kehidupan yang tidak dapat digantikan dengan mudah.
Jawa Timur memberikan pelajaran yang jelas. Ranu Klakah, Ranu Pakis, Ranu Bedali, Ranu Grati, Telaga Ngebel, Telaga Sarangan, dan berbagai danau lainnya bukan sekadar objek wisata. Di dalamnya terdapat air, ikan, plankton, tumbuhan, sejarah, ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Pertanyaannya bukan lagi apakah danau masih bisa kita manfaatkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita masih mampu memanfaatkan danau tanpa menghabiskan kehidupan yang ada di dalamnya?
Jawabannya akan menentukan wajah perairan Indonesia beberapa puluh tahun mendatang.
Karena itu, rekomendasinya sederhana, tetapi membutuhkan keberanian untuk menjalankannya: lindungi daerah tangkapan air, pulihkan sempadan, kendalikan pencemaran, hentikan pelepasan ikan asing secara sembarangan, kelola penangkapan berdasarkan stok, lindungi ikan lokal dan habitat pemijahannya, perkuat data dan pemantauan, serta libatkan masyarakat dalam setiap keputusan.
Danau yang sehat bukan hanya air yang terlihat jernih. Danau yang sehat adalah danau yang masih mampu memberikan kehidupan kepada ikan, kepada alam, dan kepada manusia yang hidup di sekelilingnya.
Menjaga danau hari ini berarti memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk masih mengenal suara air, melihat ikan hidup di dalamnya, dan merasakan bahwa alam bukan warisan yang boleh kita habiskan, melainkan titipan yang harus kita teruskan. (*)
*) Sapto Andriyono adalah dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga.