Menjelajah Suara lewat Perangkat Jadul ala Cahyo Sutrisno

Menjelajah Suara lewat Perangkat Jadul ala Cahyo Sutrisno

Awalnya, Cahyo Sutrisno iseng mengoleksi audio jadul atau vintage audio untuk mendukung hobi bermusik. Juga untuk mempelajari karakter audio di setiap dekade. Namun, dari hobi, koleksi audio vintage itu berkembang menjadi usaha yang menguntungkan.

 

DI RUMAH yang berlokasi di Jalan Ngagel Tirto, Surabaya, Cahyo Sutrisno menyimpan puluhan perangkat audio jadul. Bertumpuk-tumpuk memenuhi beberapa ruangan sekaligus. Rupanya, itu belum semua. Koleksi yang lebih besar tertata di lapaknya di Pasar Nostalgia Bratang Gede.

Cahyo merupakan nama beken di dunia vintage audio. Audio miliknya berjumlah ratusan. Mulai dari amplifier hingga berbagai macam tape. Mulai dari tape deck, compo, boom box. Juga ada speaker berbagai model dan ukuran.

 

Lapak Cahyo terletak persis di tengah-tengah pasar. Saat ditemui, ia sedang bermain gitar dengan menjajal berbagai karakter suara amplifier yang dimilikinya. ’’Kalau membahasakan karakter suara tiap-tiap audio, tentu susah. Dirasakan dan dinikmati saja. Kalau sering dijajal, nanti akan tahu bedanya,’’ ujarnya.

Menurut Cahyo, setiap merek audio memiliki karakter suara khas. Tak hanya dari kualitas suara. Bentuknya pun juga dirancang sedemikian rupa. Bahkan beberapa merek memperhitungkan desain ruangan tempat produk diletakkan. ’’Misalnya, tape yang ramping cocok untuk dipajang di interior berbahan kayu. Dan sebagainya,’’ jelasnya.

Tiap dekade juga memiliki kekhasan dalam warna. Audio dari era 70-80an, misalnya, banyak mengusung warna perak. Karena memang tren saat itu serba futuristis. 

TAPE COMPO dekade 80an yang berwarna silver. 

 

Banyak orang yang mengoleksi kaset, compact disc, atau piringan hitam. Namun sering kali kolektor benda-benda tersebut tak memikirkan perangkat audio pemutarnya. ’’Sayang kalau punya banyak cassette tape, tapi memutarnya hanya menggunakan walkman atau compo. Kurang maksimal,’’ ujar pria berusia 40 tahun itu.

Pita dalam cassette tape dapat mengeluarkan suara yang baik apabila diputar dengan perangkat yang mendukung. ’’Produk-produk kaset era 70-an, misalnya, sering dikeluhkan soal kualitas audionya. Tapi kalau diputar dengan tape yang bagus, bisa terdengar jelas kok,’’ ujarnya.

Banyak kawan-kawan Cahyo yang memintanya membandingkan kualitas suara masing-masing audio. Baginya, mereka sangat sulit untuk dibandingkan. Selain karena selera, tiap gendang telinga manusia menerima frekuensi suara yang berbeda-beda. ’’Makanya kembali ke persoalan persepsi. Cocok atau tidak. Kalau cocok, tinggal pakai saja,’’ sarannya.

Cahyo kemudian menggeser seperangkat audio deck miliknya. Seperti lazimnya audio deck, tunner, mixer dan sebagainya belum terintegrasi. Perantinya banyak. Pemutar di bagian atas, kemudian berderet di bawahnya adalah kotak-kotak tunner dan mixer. Dan jika ingin memutar piringan hitam, masih ada satu kotak lagi yang harus dipasang. Yakni turn table. Amplinya juga diletakkan di sisi kanan dan kiri tape deck tersebut.

TAPE DECK milik Cahyo yang berumur lebih dari 20 tahun tapi suaranya masih prima.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: