Wushu artikel

Kabar Atlet Wushu Erwein Usai Pensiun di PON XX : MARK Indonesia Sampai ke Amerika dan Myanmar (2)

Kabar Atlet Wushu Erwein Usai Pensiun di PON XX : MARK Indonesia Sampai ke Amerika dan Myanmar (2)

Erwein Wijayanto owner Mark Indonesia saat berjuang untuk Indonesia.-Dok Pribadi-

Anda sering mendengar kutipan ini: Pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Erwein Wijayanto owner MARK Indonesia sedang menjalani itu.

Lantai 3 Graha Unesa Surabaya begitu ramai dengan stand bazar. Berbagai produk makanan, minuman diburu peserta dan para penonton Kejurnas Wushu Piala Presiden 2022 yang digelar 16-22 September 2022.

Di antara produk-produk makanan itu, ada di salah satu stand yang menjual barang-barang kebutuhan atlet Wushu. Pakaian, jaket, dan celana wushu digantung berjejer, dengan rapi. 

Tak sulit menemukannya karena produk yang dijual sangat berbeda di antara yang lain. Letaknya juga yang paling dekat dari dua pintu masuk. 

Di balik tenant itu, ada seorang mantan atlet wushu yang mengatur keseluruhan proses produksi dan penjualan. Erwein Wijayanto owner MARK Indonesia. 


Erwein Wijayanto owner Mark Indonesia melayani calon pembeli di stand lantai 3 Graha Unesa, Rabu, 21 September 2022.-Alfiyanto Indra Jayadi/Harian Disway-

MARK Indonesia merupakan bisnis pakaian olahraga Wushu yang digarap oleh pria 29 tahun itu, sejak tahun 2016. 

Harga produknya berkisar antara Rp 120.000 hingga Rp 250.000. Bisnis ini lahir saat Erwein sedang terikat tanggung jawab sebagai atlet, dan mahasiswa Teknik Kimia. 

Ia berada ditengah sebagai poros pada usaha ini. Erwein tak mau jika tak turun sendiri dalam memilih tempat untuk membeli bahan, printing, dan penjahit, bahkan hingga pemasaran dan pembukuan ia lakukan sendiri. 

Pria yang berkuliah di Bogor itu mendapat inspirasi atas desain produknya ketika tidur. "Kalau orang susah tidur kesel kan, kalau aku malah seneng, soalnya muter terus otaknya. Tiba-tiba ada inspirasi" Ceritanya dengan sorot mata yang berbinar. 

Entah apa yang ada di benaknya ketika membuat bisnis di tengah kesibukan yang sedang ia jalani. Saat itu ia masih aktif mengikuti berbagai pertandingan. 

Alasan yang pasti ialah ingin memudahkan para atlet yang sedang bingung mencari pakaian untuk berlatih Wushu. "Kalau pakai training biasa kan tebel, berat, potongan ga enak. Nah punya kami ini lentur, ringan, Wushu banget lah" Terangnya. 

Berbekal kemampuan desain dan editing dari hobi fotografi, pria itu tancap gas. Lebih-lebih lagi, saat ini masih sedikit toko yang menyediakan kebutuhan ini. "Ada di Surabaya, tapi mereka import. Kalau kami bikin sendiri" Imbuhnya.

Pasar memberi respon baik atas produk Erwein, walaupun sempat terjun bebas saat pandemi lalu. Tidak ada pertandingan offline serta latihan yang hanya dilakukan di rumah, menjadi sebab dari penurunan omzet. 

Sejauh ini, Erwein masih mengandalkan pemasaran yang konvensional, bertemu langsung dengan calon customer, sambil menunjukkan kualitas barang. 

Kini permintaan mulai datang lagi, terutama untuk kebutuhan pakaian klub-klub wushu di daerah, misalnya DKI Jakarta, Bogor, Medan, dan wilayah Indonesia yang memiliki pusat pelatihan wushu. 

Ada pergeseran pola produksi antara dahulu dengan saat ini. Dahulu Erwein lebih banyak memproduksi pakaian untuk dipajang dan dijual. Dalam setiap produksinya, ia hanya mencetak sejumlah satu lusin. 

Kini, 70-80% produk didominasi oleh pesanan untuk memenuhi kebutuhan klub atau kelompok tertentu. "Dulu kan belum banyak orang tau, kalau sekarang udah mulai ada yang tau. Klub ini bikin, klub itu bikin, jadi tau dari mulut ke mulut" Jelasnya. 

Bisnis yang lahir dengan celana wushu sebagai produk pertamanya ini, juga telah mendapat customernya dari luar negeri. 

Club USA, dan Myanmar mempercayakan seragam klubnya pada MARK. Pola promosi juga sama, bertemu, melihat, merasakan, kemudian membeli. 

Erwein sangat memanfaatkan moment-moment bertemu dengan calon customernya di tengah pertandingan maupun try out bersama. 

Upaya menyentuh pasar online sedang dicobanya, kini produknya bisa ditemukan dalam katalog digital yang ada di sosmed, dan marketplace. Tahun 2018 omzet kotor dari bisnis yang lahir di Bogor ini mencapai 700 juta dalam setahun. 

"Tapi ga tentu ya, soalnya tergantung produksi". Tidak ada jadwal pasti, dalam sebulan MARK melakukan produksi berapa kali. Semua masih mengikuti situasi dan kondisi.   

Sambil sedikit menegakkan badan, pria yang nyemplung ke dunia desain dan konveksi karena tidak sengaja ini, membagikan rencana atas bisnisnya. Rencana jangka pendek bisnis yang masih berusia 6 tahun itu, akan terus memperbanyak desain dan jumlah barang-barang baru. 

Sedangkan untuk jangka panjang, ia berencana untuk memperluas variasi barang ke olahraga-olahraga di luar wushu. "Kemarin ada yang nyari untuk senam" Ingatnya. 

Bukan tanpa hambatan perjalanan Erwein membangun MARK. Tempat produksi yang berpindah dari Bogor ke Karawang membuatnya harus mencari rekan bisnis baru tanpa mengurangi kualitas. 

Salah beli bahan juga pernah ia alami. Pernah mencoba melebarkan sayap dengan produksi sepatu, tapi kemudian gagal. 

Walau penuh tantangan, apalagi ia tak memiliki latar belakang desain maupun bisnis, bertahan masih menjadi pilihannya. Erwein memegang teguh tanggung jawab dan komitmen yang sudah ia pegang sejak awal. 

Tak mengutamakan keuntungan, tapi membangun kepercayaan dan memperkenalkan brand. "Contohnya baju juri sama seragam kontingen, untungnya ga banyak, tapi saya sudah bilang a, berarti ya a. Saya juga pengen lihat anak-anak DKI pakai seragam, mereka kan senang kalau punya jaket," ucapnya.

Erwein sendiri saat ini juga sebagai pelatih dari kontingen DKI Jakarta. Ada 11 atlet senior yang berada di bawah asuhannya. 

Terhitung per tanggal 21 Sept, para asuhannya telah mendapat 4 emas, 1 perak, dan 2 perunggu. Wushu masih begitu dekat dengannya, walau ia telah memilih untuk pensiun sebagai atlet. Pada PON 2024 ia menargetkan 7 emas. (Gusti Ayu Y. D.)

Benarkah Erwein putuskan Pensiun karena Cedera? BACA BESOK!  

Sumber: