Usai Festival Cap Go Meh, Pemkot Jadikan Kya-kya Simbol Toleransi Surabaya

Usai Festival Cap Go Meh, Pemkot Jadikan Kya-kya Simbol Toleransi Surabaya

Suasana Festival Cap Go Meh yang berlangsung di Kya-kya Kembang Jepun, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (12/2/2023) diguyur hujan. -Julian Romadhon/Harian Disway-Harian Disway

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Hujan gerimis menyambut Festival Cap Go Meh, di kawasan Kembang Jepun, Surabaya Minggu malam, 12 Februari 2023.

Warga Tionghoa percaya bahwa turunya hujan pada perayaan Imlek adalah simbol berkah. Yang membawa keberuntungan dan kemakmuran.

Kendati begitu, Pawai Budaya Tionghoa yang dihelat Pemkot Surabaya itu tetap menjadi mangnet kuat. Ribuan warga menonton acara yang diwarnai pesta kembang api tersebut.

 


Warga menggunakan payung menuju area pagelaran Festival Cap Go Meh yang diguyur hujan di Kya-kya, Kembang Jepun, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (12/2/2023).-Julian Romadhon/Harian Disway-Harian Disway

 

Sebanyak 12 komunitas Tionghoa yang menjadi peserta pawai berkumpul di sisi kanan panggung. Bersiap menampilkan aksi terbaiknya. 

 

Setelah dilakukan pemukulan gong, penanda dimulainya pawai, peserta Festival Cap Go Meh mulai bergerak, berbaris di jalur pawai. Baris yang paling depan, diisi peserta berpenampilan ala kera sakti, dan Biksu Tong. Lalu, diikuti kelompok liong dan barongsai. Disusul, tiga pasangan finalis Koko - Cici Jatim, bersama Cak dan Ning Surabaya.

 


Peserta Parade Kostum Unik Barongsai menghibur warga yang mengunjungi Festival Cap Go Meh yang berlangsung di Kya-kya Kembang Jepun, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (12/2/2023).-Julian Romadhon/Harian Disway-Harian Disway

 

Selanjutnya, pesta kembang api yang kedua. Dilanjutkan kelompok peserta komunitas nuansa Pecinan. Yang menghibur para pengunjung dengan berbusana tradisional Shanghai. Serba merah. Lengkap dengan topi khasnya.

 

Seluruh peserta pawai diberangkatkan. Mereka, mengular dan bergerak untuk mengitari kawasan Pecinan itu. Dari Jalan Kembang Jepun, menuju ke Jalan Karet, lalu berbelok ke Jalan Coklat, menuju ke Jalan Slompretan, hingga sampai kembali ke titik awal: panggung Festival Cap Go Meh.

 

Di sela menunggu peserta pawai, pengunjung dimanjakan berbagai penampilan budaya khas Tionghoa dari atas panggung. Di antaranya, grup musik dari Rumah Kecapi. Yang membawakan lagu Rayuan Pulau Kelapa dengan arassemen lagu Mandarin.

 


Koko Cici berbaris saat mengikuti Parade Kostum Unik di Kya-kya Surabaya, Jawa Timur, Minggu (12/2/2023).-Julian Romadhon/Harian Disway-Harian Disway

 

Lalu, dilanjutkan tarian tradisional oleh kelompok tari siswa SMP dari Little Sun School, Surabaya. Mereka berlima membawakan tarian yang bertajuk Firerine.

 

"Selain turut memeriahkan acara, juga ingin melatih anak didik kami percaya diri. Berani, tampil dihadapan umum," ujar Yovita Santoso, Kepala Sekolah SMP Little Sun School, Minggu, 12 Februari 2023. "Sekaligus ajang untuk mengimplementasi pembelajaran ekstrakurikuler," lanjut perempuan dengan nama Chen Hui Lian (陈慧莲) itu.

 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengapresiasi antusias masyarakat Surabaya, ikut memeriahkan perayaan Cap Go Meh 2023. Membuktikan bahwa Kota Surabaya patut disebut Kota Toleransi.


Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi (tengah) duduk dibangku para undangan ketika berlangsungnya Festival Cap Go Meh di Kya-kya, Kembang Jepun, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (12/2/2023).-Julian Romadhon/Harian Disway-Harian Disway

 

"Perlu diadakan acara yang mencerminkan sikap toleransi semacam ini. Setiap tahun. Termasuk menyambut perayaan umat lainnya juga," kata Eri, disambut riuh sorak dan tepuk tangan pengunjung.

 

Menurut Eri, wisata pecinan Kya-kya Kembang Jepun adalah salah satu simbol, bahwa Surabaya kota toleransi. Kya-kya menyajikan berbagai menu makanan khas Tionghoa, berkolaborasi bersama stan menu makanan-minuman (mamin) lokal. "Nah suasana toleransi dan kekeluargaan ini yang perlu kita pertahankan, dan dijaga kelestariannya," tandasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: