Bukan Melulu Akting, Voters Oscar Memilih Pemenang Berdasarkan Kisah dan Sejarah

Bukan Melulu Akting, Voters Oscar Memilih Pemenang Berdasarkan Kisah dan Sejarah

SELURUH cast dan kru Everything Everywhere All at Once berpose di Vanity Fair Oscar Party di Wallis Annenberg Center 13 Maret 2023. -Jon Kopaloff-Getty Images via AFP -

Oleh:
Retna Christa
wartawan Harian Disway

EVERYTHING Everywhere All at Once, seperti diprediksi, memenangkan gelar tertinggi di ajang Academy Awards 2023. Yakni Best Picture alias Film Terbaik. Enam trofi lain yang diperoleh film itu menguatkan kesan bahwa Oscars kali ini mengikuti kehendak publik.

Apa yang lebih dramatis—dan historis—selain dua bintang terbesar Asia mengawinkan gelar di Academy Awards? Kebetulan, keduanya mendapatkan dukungan kuat dari publik. Ke Huy Quan dan Michelle Yeoh sama-sama punya cerita kuat. Kemenangan mereka bakal sangat bersejarah.

So, itulah yang dilakukan anggota Academy of Motion Pictures, Arts and Sciences (AMPAS, penyelenggara Oscars), saat voting Aktris Terbaik dan Aktor Pendukung Terbaik. Daripada dihujat lagi gara-gara memenangkan Anthony Hopkins atas Chadwick Boseman—yang berkulit hitam dan baru saja meninggal—lebih baik bermain aman.  

Mereka memilih Ke Huy Quan sebagai Aktor Pendukung Terbaik. Dan Michelle Yeoh sebagai Aktris Terbaik.


MICHELLE YEOH menimang piala Oscar di press room Dolby Theatre, Hollywood, 13 Maret 2023.-Foto-foto: Rodin Eckenroth-Getty Images via AFP-

Ke Huy Quan adalah perwujudan sejati konsep American dreams. Anak imigran yang sempat melejit di era 1980an, kemudian menghilang dari Hollywood karena tidak laku. Kemudian comeback dengan menyapu berbagai gelar penting musim ini.

Sedangkan Yeoh? Nasib dia lebih beruntung di Hollywood. Namun, status sebagai perempuan Asia pertama yang memenangkan Aktris Terbaik jelas bakal lebih diingat sepanjang masa. Daripada jika--katakanlah--memilih Cate Blanchett. Yang berkulit putih, dan sudah pernah mengantongi dua piala.

Memenangkan Yeoh sekaligus membuat image Academy makin berkilau. Mereka akan dikenal sebagai organisasi yang menjunjung tinggi inklusivitas. Sekalipun akting dia sebagai konduktor Lydia Tar juga luar biasa kuat.

’’Ibuku berusia 84 tahun, dan dia menonton acara ini di rumah. Ma, aku menang Oscar!’’ Ke Huy Quan berkata, di sela isak tangisnya di podium Dolby Theatre, Hollywood, 13 Maret 2023 lalu. ’’Perjalananku dimulai dari sebuah perahu. Aku menghabiskan waktu setahun penuh di kamp pengungsi. Dan entah bagaimana ceritanya, aku berakhir di sini. Di panggung terbesar Hollywood,’’ tuturnya.

’’Mimpi adalah sesuatu yang harus kamu percayai. Aku hampir menyerah mengejar mimpiku. Buat kalian semua, tolong, jagalah mimpimu agar tetap hidup. Terima kasih telah menerimaku kembali,’’ Ke berseru, disambut aplaus ratusan audiens.

Sebuah adegan mengharukan terjadi ketika pengumuman Best Picture. Kategori itu dibacakan oleh Harrison Ford. Dan ketika Everything Everywhere All at Once disebut, Ke Huy Quan menghambur ke panggung. Langsung memeluk Harrison Ford. Kejadian 39 tahun silam terulang. Ketika Harrison Ford memeluk Ke Huy Quan kecil dalam adegan Indiana Jones and the Temple of Doom. Itulah debut Ke di industri film.


MENGHARUKAN, Ke Huy Quan memeluk Harrison Ford saat filmnya memenangkan Best Picture. Mengulang adegan 39 tahun silam dalam film Indiana Jones and the Temple of Doom. -Rolling Stones-

Everything Everywhere All at Once merebut empat trofi lagi. Yakni Aktris Pendukung Terbaik lewat Jamie Lee Curtis. Dan Sutradara Terbaik lewat Daniel Kwan dan Daniel Scheinert. Plus Skenario Orisinal Terbaik (juga oleh Duo Daniels), serta Editing Terbaik.

Kemenangan Jamie Lee Curtis juga cukup predictable. Dia sebelumnya bersaing ketat dengan Angela Bassett, pemeran Ratu Ramonda dalam Black Panther: Wakanda Forever. Namun, sudah rahasia umum bahwa anggota Academy tidak pernah menganggap serius film-film buatan Marvel Studios.


JAMIE LEE CURTIS menunjukkan piala Oscar dari kategori Aktris Pendukung Terbaik di Academy Awards 2023.-Rodin Eckenroth-Getty Images via AFP-

Di sisi lain, cerita Curtis lebih kuat. Dia adalah salah seorang nepo-baby Hollywood (anak pasangan aktor terkenal) yang belum pernah sekalipun mendapat Oscar. Apalagi, akting putri aktor Tony Curtis dan Janet Leigh itu di Everything Everywhere All at Once memang oke.

Kategori Aktor Terbaik juga tidak mengejutkan. Tiga atau empat tahun yang silam, memerankan sosok legendaris Hollywood adalah tiket ekspres menuju Oscar. Rami Malek (memerankan Freddie Mercury dalam Bohemian Rhapsody), Reene Zellwegger (Judy Garland dalam Judy), dan Jessica Chastain (penginjil Tamy Faye dalam The Eyes of Tammy Faye), merebut piala lewat jalur ini. Namun, sekarang tidak semudah itu.

Austin Butler, yang begitu bagus membawakan peran Elvis Presley (sampai suara dan cara berbicaranya terbawa sampai sekarang), dan Ana de Armas yang memerankan Marilyn Monroe, tak lagi dilirik. Butler menang Golden Globes memang. Namun, dalam ajang penghargaan lain, angin lebih memihak ke Brendan Fraser. Yang tampil luar biasa dalam The Whale.

Nah Brendan Fraser juga punya cerita yang lebih kuat dibandingkan Butler—yang masih berusia 31 tahun. Kisahnya mirip Ke Huy Quan. Ia adalah salah seorang heartthrob Hollywood yang sukses lewat film-film komedi dan action horor. Misalnya George of the Jungle (1997), dan trilogi The Mummy (2001-2008).

Namun, setelah itu karier layar lebarnya meredup. Apalagi, ia sempat terbelit masalah finansial dan menjadi korban pelecehan seksual. The Whale bisa dikatakan sebagai comeback Fraser sebagai aktor yang patut diperhitungkan di Hollywood. Di usia 54 tahun, ini kali pertama Fraser masuk nominasi Oscar, dan langsung menang.


SEMPAT HILANG, The Whale adalah comeback Brendan Fraser di Hollywood.-Rodin Eckenroth-Getty Images via AFP-

Brendan Fraser sangat emosional ketika menerima piala. Tangisnya bahkan lebih keras daripada Ke Huy Quan. ’’Jadi, seperti inilah wujudnya multiverse,’’ kata Fraser berkaca-kaca.

Ia berterima kasih kepada Daren Aronofsky, yang membuat film seberani The Whale. Tentang seorang profesor supergendut yang menderita akibat penyakitnya. ’’Aku terjun ke bisnis ini 30 tahun lalu. Dan segalanya tak berjalan mudah buatku. Ada hal-hal indah yang tak kuhargai saat itu, hingga akhirnya mereka menghilang,’’ tuturnya.

Seperti Ke Huy Quan juga, Fraser sangat gembira diterima kembali oleh industri. Semoga ini bukan panggung terakhir buat mereka. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: