Sake Amerta Sari, Sanggar Gamelan di Tampaksiring yang Berikan Pelatihan Gratis buat Remaja

Sake Amerta Sari, Sanggar Gamelan di Tampaksiring yang Berikan Pelatihan Gratis buat Remaja

Dewa Gede Widya Bayu Putra (kanan), pendiri Sake Amerta Sari di Tampaksiring.-Julian Romadhon-

BALI, Harian Disway - Muda, inovatif dan mampu memberdayakan pemuda-pemuda sebaya. Itulah Dewa Gede Widya Bayu Putra. Tinggal di Banjar Tegalsuci, Tampaksiring, ia mengkoordinasi 42 pemuda untuk aktif bermain gamelan Bali

Bayu Putra tergabung dalam Alit Indonesia cabang Bali. Yakni lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan anak, sosial-masyarakat, dan kebudayaan. Ia melakukan kerja kreatif, mengajak pemuda-pemuda di desa Banjar Tegalsuci untuk bermain gamelan.


Suasana latihan gamelan di Sake Amerta Sari. Pemainnya semua remaja.-Julian Romadhon-

"Agar kawan-kawan memiliki kegiatan positif. Sekaligus sebagai upaya melestarikan seni gamelan Bali," ujar Bayu Putra. Apalagi ia memiliki kemampuan bermain gamelan yang mumpuni. Sehingga ia dapat mengajar anak-anak atau remaja yang awam.

Kegiatan itu diselenggarakan di Bale Dauh, ruang depan rumahnya. Balai yang lazimnya difungsikan sebagai tempat penerimaan tamu jadi tempat latihan gamelan. Atau dalam bahasa Bali disebut menggambel.

Karena semakin banyak anak dan remaja yang tertarik, maka Bayu Putra mendirikan ''sake'' alias sanggar kesenian. "Namanya Sake Amerta Sari. Sanggar independen tanpa biaya. Siapa saja jika mau bergabung dan berlatih kami persilakan. Pun pengajarnya seperti saya juga tidak memungut bayaran. Karena ini kerja untuk pelestarian," ujar pemuda 18 tahun itu

Minggu sore, 28 Mei 2023, Bayu Putra dan kawan-kawannya berlatih gamelan. Seperangkat gamelan terdiri dari trompong, kajar, dan kendang jedugan. Anggota Sake Amerta Sari merupakan anak-anak remaja dari usia SMP hingga mereka yang telah bekerja

Mereka memainkan tetabuhan baleganjur. Karakter nadanya lembut. Berbeda dengan gamelan Jawa yang memainkan tempo-tempo lambat. Gamelan Bali lebih bertempo cepat dan variatif.

Bayu Putra memaparkan 3 tahapan dalam bermain gamelan Bali. Pertama, pengawit atau awalan. Yakni jenis permainan yang digunakan untuk mengawali pertunjukan. Kedua, pengawak atau bagian tengah permainan. Ketiga, pengecer atau akhiran.

"Sore ini kami latihan pengawit dan pengawak saja. Selanjutnya kami latih lagi besok," terangnya.

Saat ini mereka sedang intens berlatih, karena pada tanggal 3-10 Juni, Seka Amerta Sari akan berpentas di Gianyar. 

Lantas tanggal 6 Juni mendatang, sake tersebut aman tampil dalam acara piodalan, di rumah seorang pendeta di Tampaksiring. "Tanggal 9 nanti kami bermain di Pura Penataran Pande," ungkap Bayu Putra.

I Gede Manesa Apsarendra, remaja berusia 16 tahun tampak asyik memainkan trompong. Sedangkan Gusti Ngurah Bagus Bahyuguna, memberi aksen nada lewat alat musik kajar. Jika tak menggunakan kendang, kajarlah yang bertugas sebagai penentu ketukan. 

"Jika generasi muda tak mau melestarikan, lama-lama bisa tersisih. Semangat ini harus terus dijaga," ujar Bagus. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: