Peluncuran Buku Refleksi Forum R20, Rektor UGM Apresiasi Inisiasi PBNU Menggagas Dialog Antar Agama

Peluncuran Buku Refleksi Forum R20, Rektor UGM Apresiasi Inisiasi PBNU Menggagas Dialog Antar Agama

Rektor UGM dan Ketua Umum PBNU dalam peluncuran buku Proceeding The R20 berisi refleksi forum lintas agama pada akhir 2022 lalu-PBNU-

YOGYAKARTA, HARIAN DISWAY  - Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Ova Emilia mengapresiasi inisiasi PBNU yang telah menggagas berbagai forum dialog antaragama. 

Salah satunya adalah forum Religion 20 (R20) yang diadakan pada akhir tahun 2022 lalu sebagai bagian dari rangkaian G20. Termasuk kegiatan ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Conference (IIDC) 2023 yang bakal digelar di Jakarta 7 Agustus mendatang. 

Menurut Ova, keketuaan Indonesia dalam forum tersebut menunjukan bagaimana peran diplomasi agama mampu menciptakan perdamaian, stabilitas sosial, membangun dialog dan perdamaian antar bangsa. 

BACA JUGA:Komunike R20 Bali untuk Aliansi Global

“Poin utama para cendikiawan tentu menjadi peran jalan bagi capaian nilai, menjembatani perbedaan, mendorong dialog antar agama, maupun program pemberdayaan manusia," kata Ova di Balai Senat UGM, Jumat, 4 Agustus 2023. 

Acara tersebut juga sekaligus menjadi peluncuran buku prosiding G20 Religion Forum dengan judul Proceedings of the R20 International Summit of Religious Leaders.  

Prosiding R20 berisi kompilasi hasil kesepakatan dan gagasan para tokoh agama yang berpartisipasi langsung dalam kegiatan R20 di Bali yang dihelat pada awal November 2022 lalu. Buku prosiding R20 ini diterbitkan UGM Press.

Ova berharap, ide besar buku ini mampu menjadi rujukan pemimpin dunia terutama sebagai bahan pertimbangan mengambil kebijakan global.

BACA JUGA:R20 Pertemukan 400 Pemimpin Agama

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam sambutannya mengatakan, inisiatif R20 merupakan upaya untuk menjadikan agama sebagai sumber solusi dari dinamika global yang terjadi. 

Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden tersebut mengungkapkan, pihaknya sedang mencari cara untuk terus menegakkan agama dan menjadikannya sebagai kontribusi bagi peradaban yang akan datang yang seluruh masyarakat kesusahan karena perang. 

“Karena itulah terciptanya inisiatif R20 adalah menghentikan agama sebagai sumber masalah dan mulai menjadikannya sebagai sumber solusi,” jelas Yahya.  

BACA JUGA:PBNU Gagas IIDC ASEAN, Promosikan Harmoni dan Perdamaian Internasional Antaragama

Menurut Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada (UGM) Ahmad Munjid, perhelatan forum R20 telah membuka cara pandang baru bahwa agama bukanlah bagian dari masalah melainkan bagian dari solusi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: