Rilis Surat Cinta di Lemari Tua, Perlima Pentaskan Ludruk

Rilis Surat Cinta di Lemari Tua, Perlima Pentaskan Ludruk

Adegan ludruk yang dimainkan The Luntas Indonesia. Mereka mengambil cerita tentang keluarga Pak Karjo. Ketika Pak Karjo meninggal, masalah datang. -Muchammad Ma'ruf Zaky/HARIAN DISWAY-

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Di pengujung Bulan Bahasa dan tepat pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2023, Perempuan Penulis Padma (Perlima) merilis karya. Buku yang kelima sebagai tanda produktivitas mereka dalam Surat Cinta di Lemari Tua.

Buku yang dikeluarkan Perlima itu mengusung empat tema. Terinspirasi dari kejadian dan peristiwa di sekitar penulis. Yakni ayah, wayang, kearifan lokal, dan travelling. Dengan topik pilihan itu, lahirlah 37 esai. "Untuk genre esai ini buku yang ketiga," terang Ketua Perlima Tjahjani Retno Wilis.  

Setebal 200 halaman, Surat Cinta di Lemari Tua mengajak pembacanya untuk masuk pada empat hal. Ada 10 tulisan yang membangkitkan rindu pada ayah. Ada 8 tulisan yang menumbuhkan minat pada wayang.

"Berikutnya 11 tulisan yang mendorong kecintaan anak negeri pada kearifan lokal dan 8 tulisan yang memantik pengalaman serunya travelling," kata pemilik nama pena R Wilis itu.
Sambutan Ketua Perlima Tjahjani Retno Wilis dalam perilisian buku Surat Cinta Di Lemari Tua yang digelar di IFI Surabaya, pada Sabtu, 28 Oktober 2023. -Ma'ruf Zaky/HARIAN DISWAY-

BACA JUGA: Tertarik dengan 20 Jenis Burung, Ellena Gabrielle Terbitkan Buku tentang Habitat Burung di Singapura

Dia menyampaikan bahwa penamaan judul itu merangkum tema yang diusung. “Kita pastinya tidak asal memberi judul ya. Ada dua bagian. 'Surat Cinta’ mewakili tema ayah. 'Lemari Tua’ untuk tiga tema lainnya,” terangnya.

Dalam sampul buku yang dominan warna salem, tampak lemari kayu tua bermotif bentuk hati. Terlihat tumpukan surat yang memenuhi lemari. Selaras dan mewakili judul yang dipilih. 

Pada soft cover di bagian belakang tertulis penjelasan ringkas bahwa buku ini merupakan "surat cinta dari Perlima untuk jagat literasi Indonesia". Diakhiri kalimat harapan agar tulisan yang ada di dalamnya bisa menginspirasi pembaca.

BACA JUGA: Eastern Indonesia For The World, The Story of Eastern Indonesian Food Commodities, Buku tentang Ekspor Indonesia Timur

Ditulis oleh 15 penulis yang semuanya anggota Perlima, rata-rata latar belakang mereka adalah ibu rumah tangga. "Bayangkan di tengah kesibukan mengurus keluarga, masih bisa produktif menghasilkan sebuah karya tulis. Itu yang menyenangkan," kata R Wilis.

Selama proses menulis, mereka ditantang untuk melakukan journaling setiap hari selama satu bulan penuh. Di akun media sosial masing-masing. “Luput satu hari saja tidak lolos dalam seleksi,” terang R Wilis yang juga salah seorang penulis.

"Dari beragam tulisan yang dihasilkan, ada perbaikan dari tim editor Perlima. Jadi, tulisan yang terpilih telah mengalami kurasi ketat untuk bisa diterbitkan," terang R Wilis.
Anggota Perlima yang mengenakan kain-kain tradisional Indonesia atau wastra Nusantara. Untuk menunjukkan kearifan lokal dalam budaya Indonesia, mereka pun berparade busana. -Ma'ruf Zaky/HARIAN DISWAY-

Saat peluncuran, tamu undangan dan anggota Perlima yang memenuhi ruangan Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya kompak dengan kode busana. Mereka mengenakan kain-kain tradisional Indonesia atau wastra Nusantara.

Untuk menunjukkan kearifan lokal dalam budaya Indonesia, mereka berparade busana. Salah satunya baju kurung khas Jambi. Perpaduan warna hijau pupus dan oranye yang cantik. Busana yang dipakai Rani Prasetyo itu membawa pemakainya menjadi salah seorang pemenang busana terbaik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: