Ngabubookread ala Surabaya Book Party: Silent Reading, Lalu Bahas Buku dalam Kelompok

Ngabubookread ala Surabaya Book Party: Silent Reading, Lalu Bahas Buku dalam Kelompok

SHARING SESSION dalam Ngabubookread menjadi peluang bagi para peserta untuk menyampaikan pendapatnya tentang buku yang dibaca. Sebelumnya, para peserta membaca buku dalam hening.-Calista Salsabila Azhari-Harian Disway

Sore menjelang berbuka puasa adalah waktu yang ideal untuk bersantai. Baca buku bareng dan membicarakan buku yang sedang dibaca, menjadi cara sekelompok pemuda Surabaya untuk ngabuburit. 

NAMANYA Ngabubookread. Dari nama itu saja bisa diketahui bahwa aktivitas tersebut berkaitan dengan membaca buku. Sedikitnya 52 anak muda meramaikan acara pada Minggu, 22 Februari 2026, itu. Semuanya adalah Gen Z.

Ngabubookread menjadi bukti bahwa tidak semua Gen Z hanya suka menggulir layar ponsel dan eksis di media sosial. Survei Jakpat pada semester II 2025 menunjukkan hasil bahwa Gen Z punya minat baca tertinggi jika dibandingkan Gen X dan milenial. minat baca Gen Z mencapai 26 persen. Sedangkan, dua kalangan lainnya masing-masing 20 persen dan 18 persen.

“Meningkatnya minat baca di kalangan Gen Z bukan berarti mereka meninggalkan gawai. Algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram justru berperan besar dalam memopulerkan aktivitas membaca dengan membingkainya sebagai sesuatu yang menarik,” ungkap Aska Primardi, kepala Bidang Riset Jakpat, kepada media.

BACA JUGA:Minat Baca di Tengah Revolusi Teknologi

BACA JUGA:Gugah Minat Baca Anak


ILYASA EKA PRAMUDYA (kiri) berperan sebagai moderator kelompok dalam Ngabubookread Minggu, 22 Februari 2026. Di sebelahnya, Aris menunjukkan sampul buku yang dibacanya.-Calista Salsabila Azhari-Harian Disway

Pada era modern sekarang ini, membaca buku tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan akademik yang serius. Namun, membaca buku adalah hiburan, sekaligus peluang untuk mendapatkan identitas baru. Itu pula yang melandasi munculnya Surabaya Book Party (SBP).

Minggu sore itu, satu per satu peserta Ngabubookread datang ke Taman Ekspresi, tempat janjian. Namun, hujan yang menderas memaksa panitia menggeser lokasi ke kedai fast food di kawasan Genteng, yang tidak jauh dari Taman Ekspresi.

Setelah semuanya berkumpul, Ngabubookread diawali dengan silent reading. Para peserta yang sudah membawa buku masing-masing dari rumah kemudian duduk dengan nyaman dan membaca dengan hening. Ada yang membaca buku fiksi, ada pula yang nonfiksi. Panitia tidak membatasi genre bukunya. 

Sore itu, kebetulan Harian Disway berada di kelompok baca yang rata-rata membawa buku nonfiksi dengan tema besar psikologi. Yang buku fiksi hanya The Woman in Cabin 10 dan Dune. Setelah menyelesaikan sesi silent reading, para peserta diajak untuk sharing tentang buku yang mereka baca. 

BACA JUGA:Bedah Buku Pater Fritz Meko: Kembara Pikiran, Catatan Harian Seorang Imam Katolik

BACA JUGA:Teater Gapus Gelar Bedah Buku Kitab Syair Diancuk Jaran bersama Silampukau, Menelusuri Kota Surabaya ala Indra Tjahjadi


NURIL MEDIANSYAH menceritakan kembali Dasar-Dasar Psikologi Islam yang dibacanya saat sesi silent reading dalam event yang diselenggarakan Surabaya Book Party tersebut.-Calista Salsabila Azhari-Harian Disway

The Woman in Cabin 10 karya Ruth Ware mengisahkan jurnalis yang meliput pelayaran dengan kapal mewah. Di tengah perjalanan, seorang penumpang dilempar ke laut begitu saja. Dari situlah teka-teki seru dimulai,” kata Alifia Dharmayanti yang datang dari Tenggilis, Surabaya. 

Alifia mengaku lebih suka membaca genre misteri ketimbang yang lain. Dia juga membaca Sherlock Holmes dan komik Detective Conan. Misteri dalam buku yang dibacanya, membuat Alifia penasaran dan tertantang untuk menebak-nebak ending cerita. 

Ilyasa Eka Pramudya, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, mengulas Emotional Intelligence yang ditulis Daniel Goleman. “Di mata kuliahku ada referensi buku ini. Aku jadi tertarik karena sadar kalau manusia itu ternyata harus cerdas secara emosional juga,” ucap pengurus Divisi Gryter SBP itu.

Buku itu banyak mengungkapkan pentingnya kecerdasan emosional pada manusia agar tidak bertindak semena-mena dan tidak mudah menghakimi orang lain. Buku itu juga mengajarkannya untuk belajar mengendalikan emosi. 

BACA JUGA:Luka dan Keras Kepala di Balik Rumpun Kupu-Kupu Karya 12 Penulis Perempuan

BACA JUGA:Ulasan Buku Mawar, Bukan Nama Sebenarnya karangan Dian Purnomo: Ironi Perempuan di Negeri Patriarki


SELURUH PESERTA Ngabubookread berfoto setelah menutup acara dengan berbuka bersama pada Minggu, 22 Februari 2026.-Calista Salsabila Azhari-Harian Disway

“Misalkan, kita lagi marah. Kalau kita cerdas secara emosi, kita nggak mungkin marah-marah atau bertengkar di depan umum. Bukannya tidak bisa marah, tapi marahnya dikemas secara halus,” ujarnya. 

Beda lagi dengan Nuril Mediansyah, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Sore itu, ia membicarakan Dasar-Dasar Psikologi Islam karangan Dr. G. Hussein Rassool dan Mugheera M. Luqman. 

Laki-laki yang akrab disapa Ryan itu pernah tinggal di pondok pesantren. Karena itu, pandangan psikologi menurut tokoh-tokoh muslim selalu menarik buatnya. “Isinya sangat menarik, membahas tokoh-tokoh Timur Tengah seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, dan lain-lain,” ungkapnya sambil menunjukkan sampul bukunya kepada seluruh anggota kelompok sharing

Satu per satu, secara bergiliran, seluruh peserta Ngabubookread menyampaikan ulasan buku masing-masing di dalam kelompok. Sesi sharing seperti itu menjadi praktik reading comprehension yang bagus.

BACA JUGA:Solo Project Imelda Bie Tularkan Kegemaran Membaca lewat bibabuku: Pokoknya Baca Saja Dulu

BACA JUGA:Cerita di Balik Pemilihan Tokoh Kucing Nami dan Mango dalam Buku Fantasia, Ada Campur Tangan Cat Lovers

Sebelum berbuka bersama, panitia mengajak para peserta terlibat dalam keseruan fun games yang ada hadiahnya. 

Ngabubookread yang digelar SBP itu menjadi cara positif Gen Z untuk menjalin silaturahmi dan meningkatkan relasi, serta menggerakkan literasi di kalangan anak-anak muda Surabaya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: