Menyelami Godaan Abadi Manusia: Harta, Tahta, Asmara

Menyelami Godaan Abadi Manusia: Harta, Tahta, Asmara

Keinginan menguasai harta benda berkelindan dalam hasrat manusiawi lainnya yakni berkuasa (will to power). Kedua hasrat duniawi ini menjadi naluri purba manusia yang selalu berjalan beriringan. --

"POWER tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely”. Adagium paling terkenal ini selalu digunakan untuk menunjukkan relasi buruk antara kekuasaan dan korupsi.

Pernyataan Lord Acton (1833-1902) ini seolah telah menjadi pengingat abadi betapa kekuasaan akan selalu berpotensi melahirkan korupsi di dalamnya. Kekuasaan selalu mudah diselewengkan untuk mendapatkan keuntungan material dari kewenangan yang dimilikinya.

Setelah dihebohkan dengan ditangkapnya dua menteri dalam Kabinet Indonesia Maju yakni mantan Menteri Komunikasi dan Informasi Jhony G Plate dan mantan Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo karena kasus korupsi, KPK kembali melakukan penangkapan.

Yakni Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bondowoso Puji Triasmoro (PJ) beserta Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Bondowoso Alexander Kristian Diliyanto Silaen (AKDS). Keduanya tertangkap tangan karena kasus suap pengurusan perkara.

BACA JUGA: Catatan dari Parade Surabaya Juang 2023: Wali Kota Terlambat, Spirit Kepahlawanan Hilang

Begitu seringnya kita mendengar berita pejabat ditangkap KPK karena kasus korupsi, lambat laun peristiwa ini jadi suatu yang lumrah terjadi.

Publik tak lagi menjadikannya sebagai peristiwa besar karena sejak awal mereka meyakini bahwa kekuasaan tak pernah bisa steril dari penyelewengan. 

Benar jika disebut bahwa korupsi itu seperti arisan. Kapan dikopyok maka akan keluar nama pejabat yang menunggu mendapat giliran. 

Korupsi tampaknya akan selalu menjadi naluri abadi dari kekuasaan. Realitas ini seolah kian membenarkan tesis bahwa hasrat paling menakutkan dari manusia tidak lain adalah keinginan untuk menguasai harta benda.

Keinginan ini berkelindan dalam hasrat manusiawi lainnya yakni hasrat berkuasa (will to power) kata Niezsche bertahun silam.
Kisah seseorang memamerkan harta kekayaannya bukanlah hal baru. Artinya, fenomena orang kaya yang flexing akan selalu ada dalam sejarah umat manusia. Peristiwanya sama, hanya subjeknya berganti. --

Kedua hasrat duniawi ini menjadi naluri purba manusia yang akan selalu berjalan beriringan. Meski selalu diingatkan dengan berbagai norma, selalu tersingkir oleh hasrat abdi manusia tersebut.

Keterjebakan manusia kepada hasrat duniawi ini seperti memberikan suatu legitimasi dunia tentang arti kesuksesan. Bahwa saat ini kesuksesan seseorang sangat mudah diukur dengan penguasaan hal-hal yang sifatnya duniawi.

Seperti kepemilikan kekuasaan dan penguasaan harta benda. Dan kesuksesan itu haru terlihat nyata di hadapan banyak orang. Khalayak harus tahu bahwa dirinya sudah sukses. 

Salah satu bukti keberhasilan adalah penguasaan pada benda-benda. Bagi sebagian besar orang, kepemilikan harta itu bukti empiris tidak terbantahkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: