Spiritual Journey Seruni Niskala di Perwara Pawitra (2): Tergetar di Candi Kerajaan, Bahagia di Candi Gajah

Spiritual Journey Seruni Niskala di Perwara Pawitra (2): Tergetar di Candi Kerajaan, Bahagia di Candi Gajah

Mejeng di Candi Gajah, candi kedua yang saya kunjungi di puncak Gunung Gajah Mungkur bersama Pasukan Pawitra yakni Mbah Wito, Abdul Wahid, SN Ilmiyah, dan Adi. Tanpa mereka pendakian saya tak mudah. -Kirana Kejora-

HARIAN DISWAY - Tak ada keinginan dan harapan yang sama dengan kenyataan telah menjadi hukum alam. Begitu pula dengan trip perdana ke gunung suci salah satu perwara Pawitra, Gunung Gajah Mungkur. Benar-benar tak semudah yang saya bayangkan.

Medan berpasir, dengan tumpukan daun kering licin serta kerikil dan batu beku andesit di tiap tanjakan pun semakin "menyiksa". Napas pun tersengal-sengal, dada terasa sesak, tubuh dan wajah mandi keringat. 

Berbekal tongkat dari potongan kayu di jalan, saya terus berusaha tegar. Sok kuat. Menebar senyum saat difoto dan nge-vlog. Meskipun hati mulai resah bin gelisah.

Bersyukur Pasukan Pawitra sungguh menghibur. Menguatkan jalan. Ada Cak Mukidi yang sigap memulung sampah plastik. Mbah Wito yang terus menyemangati dengan teriak,"Lihat bawah, jangan lihat ke atas! Biar kuat!"

BACA JUGA: Spiritual Journey Seruni Niskala di Perwara Pawitra (4-Habis): Turun Mengantar Pulang

Cak Ukan -sang Tarzan Pawitra- yang gercep dengan arit. Ia membabat pohon penghalang jalur. Mendadak ia punya bestie seekor monyet yang memberinya buah nangka matang. Jadilah kami makan ramai-ramai dengan suka cita.

Ada Adi yang hobi menghilang. Jalan cepat hingga sering diteriaki untuk menunggu. Tentu saja Abdul Abdul Wahid dari Padepokan Astana Jabal Sirr yang setia bertutur tentang 1001 candi di Pawitra.
Saya berjalan menuju lokasi candi kedua, Candi Gajah. -Kirana Kejora-

Masih ada Cak Manu yang sigap dengan golok, membabat semak belukar dan ranting-ranting pengganggu jalur pendakian. Cak Ros, yang lucunya kebangetan. Suka menyanyi enggak jelas, menghibur diri karena sering di-bully akibat banyak makan minum. Beberapa kali terpeleset. Jadi saya enggak sendirian dalam hal ini.

Tahukah? Kebiasaan Cak Ros naik gunung adalah telanjang dada dengan celana santai sebetis. Tanpa sepatu yang mendukung, ia memilih bersandal plastik slide. Menyampirkan sarung dan blus batik birunya lengan pendek di pundak kanan. Bagaimana enggak ruwet perjalanan? Tetapi itulah keunikannya, buktinya dia santai menjalani kesalahan kostumnya itu.

Well! Setelah makan nangka lezat, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak yang cukup memacu adrenalin, karena tanjakan terus naik dan naik. Sampai tampak di depan kami beberapa tangga tak beraturan, tertutup semak belukar maupun pepohonan yang ditebang Cak Manu dan Cak Ukan, pertanda mulai masuk situs.

“Ini! Candi Kerajaan!” Suara Mbak Wito menyemangati saya terus melangkah naik Ingin segera jumpa candi pertama di pendakian perdana ini.

Tanah mulai landai. Bahkan cenderung datar setelah masuk area Candi Kerajaan. Hati tergetar hebat. Terbayar mahal semua kelelahan. Tepat jam 12 kami tiba di candi besar ini.

Setelah keliling candi, berfoto bersama, merekam banyak gambar melalui video HP, saya happy, karena disiapkan Pak Abdul sebuah hammock ungu yang tergantung di pohon sebelah kanan candi. Nikmat mana yang bisa saya dustakan? 

Sementara menunggu pasukan memasak, saya mencoba hening. Tiduran di hammock. Menatap ranting-ranting daun yang menutup cerahnya langit. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: