The Other Side of Umrah (7): Jalur Alternatif ke Raudhah

The Other Side of Umrah (7): Jalur Alternatif ke Raudhah

JAMAAH perempuan menuju Raudhah.-Bagong Suyanto untuk HARIAN DISWAY-

Akibatnya, bukan hanya mutawifnya yang diperiksa petugas keamanan, kasus itu juga dilacak lebih dalam dan terungkap bahwa praktik culas pemalsuan barcode tasysrih ke Raudhah dilakukan sindikat dari negara tertentu. 

Mereka memanfaatkan antusiasme jamaah yang begitu tinggi agar dapat beribadah di Raudhah untuk memetik keuntungan material. Barcode ke Raudhah diperdagangkan layaknya komoditas bisnis. 

Oknum tertentu memanfaatkan situasi untuk kepentingan ekonomi kelompoknya. 

Mutawif yang tanpa sadar menjadi korban praktik jahat yang dilakukan oknum pemalsu tasyrih, kabarnya, ikut ditangkap petugas dan dimasukkan ke penjara. Hingga saat ini, bagaimana nasib mutawifnya belum diketahui dengan pasti. 

Mutawif yang sesungguhnya tidak bersalah pun harus menanggung imbas kelakuan jahat oknum pemalsu tasyrih.

BACA JUGA: Vaksin Menginitis Kosong, Jamaah Umrah Berkurang

Tidak Ada Artinya

Tidak semua jamaah menghalalkan segala cara untuk dapat beribadah sesuai kehendaknya. Bahkan, besar kemungkinan hanya sedikit sekali jamaah yang seperti itu. Namun, berapa pun jumlahnya, kasus memilih jalur potong kompas untuk bisa beribadah ke Raudhah sesungguhnya menjadi pelajaran pahit yang tidak perlu dilakukan.

Menurut mutawif kami, Muhammad Khairul Abidin, Lc., apa artinya 1.000 taman surga seperti Raudhah dan berapa pun jumlah tempat-tempat yang mustajab, tetapi bila jamaah yang berdoa di sana tidak ikhlas dan melakukannya tidak dengan benar. Itu semua tidak akan ada artinya.

Beribadah adalah aktivitas spiritual yang harus dilakukan dengan benar dan hati yang bersih. Beribadah di tempat-tempat yang disucikan niscaya tidak akan banyak berarti jika kita berdoa tidak didukung niat dan cara yang benar. 

BACA JUGA: Jamaah Umrah Berangkat

Beribadah adalah aktivitas yang memiliki muatan moralitas, keikhlasan, dan hati yang benar-benar bersih. Tidak mungkin doa kita diijabah Allah SWT jika cara kita menuju ke sana dilakukan dengan merugikan kepentingan dan hak orang lain.

”Kalau para jamaah beribadah, tetapi kemudian sekadar mengejar masuk di tempat-tempat yang disucikan dengan cara melukai orang lain di sekitarnya, sia-sialah kita menjalani ibadah umrah.” Demikian nasihat yang diutarakan mutawif kami. 

BACA JUGA: Umrah Bisa Lewat Juanda Lagi

Kami yang mendengar nasihat mutawif kami sudah berjanji dalam hati untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan dan menyakiti jamaah yang lain. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: