Film Yang (Tak Pernah) Hilang Kembalikan Ingatan tentang Dua Aktivis Unair yang Diculik pada 1998

Film Yang (Tak Pernah) Hilang Kembalikan Ingatan tentang Dua Aktivis Unair yang Diculik pada 1998

Film Yang (Tak Pernah) Hilang, kenang aktivis Unair yang diculik pada 1998. Pemutaran film Yang (Tak Pernah) Hilang di Ruang Adi Sukadana, FISIP Unair. Film tentang kiprah Herman Hendrawan dan Petrus Bimo Anugrah dalam Reformasi 1998. -Santi Wulida Sahri-

"Memang dulu Bima sempat pamitan pada saya dan ibunya. Bahwa ia akan menjadi aktivis. Menentang Orde Baru. Ibunya menentang. Saya, selama itu menjadi pilihannya dan sudah dipikirkan matang-matang, maka saya izinkan," kenangnya.

Bimo aktif di Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Ia ditugaskan ke Jakarta untuk bergabung dengan para aktivis dari seluruh Indonesia. Beberapa narasumber SMID dalam film itu menyebut bahwa Bima menyimpan berbagai informasi terkait gerakan.

BACA JUGA: Aktivis 98 Dukung Prabowo-Gibran dan Tepis Masalah Neo Orde Baru

Ia pun pernah dipenjara selama berhari-hari karena kedapatan memasang pamflet perlawanan terhadap pemerintahan Orde Baru. Setelah dibebaskan, ia tetap melakukan perlawanan hingga hilang pada 12 Maret 1998.

Herman, yang aktif bersama Partai Rakyat Demokratik, melakukan perlawanan hingga berujung penahanan. Budi Harjanto, mantan aktivis Pro-Mega, menyebut bahwa ia bertemu terakhir kali dengan Bima di rumahnya, di suatu daerah di Surabaya.

Saat itu Bima terlihat kumal. Pakaiannya kotor dan lusuh. Ia menyuruhnya untuk ganti baju dan celana. "Ambil baju dan celana yang pas. Herman menurut. Ia mengenakan baju saya, kemudian pergi lagi. Melanjutkan perjuangan. Setelah itu ia tak pernah kembali," ungkap Budi.
Film Yang (Tak Pernah) Hilang, kenang aktivis Unair yang diculik pada 1998. Para peserta soft launching film Yang (Tak Pernah) Hilang, di FISIP Unair, pada Rabu, 7 Februari 2024.-Santi Wulida Sahri-

Dionysius tak lagi berharap anaknya kembali. Ia sudah merelakan, bahwa itu merupakan risiko anaknya sebagai aktivis. Pun, bertahun-tahun mencari, tak ada kejelasan. "Bima sudah berjuang. Ia sudah berkumpul dengan almarhum mamanya dan Tuhan di surga. Saya sudah iklas. Perjuangannya akan dikenang sepanjang masa," ungkapnya.

Begitu pula Harina. Dia telah merelakan kepergian adiknya. "Hanya saja jika memang meninggal dunia, tolong tunjukkan di mana makamnya. Kalau masih hidup, tunjukkan keberadaannya. Kami hanya ingin memeluknya dengan hangat. Dengan rindu," ujarnya.

BACA JUGA: Dalam Buku Puisi ”Tiga Kitab” Karya Soe Tjen Marching Kulik tentang Bapa Kami dan ’98

Prof Hotman Siahaan, mantan dekan FISIP Unair, hadir dalam pemutaran film tersebut. Baginya, penculikan dan penghilangan aktivis adalah kejahatan besar. "Ya, itu merupakan kejahatan luar biasa. Harus ada penyelesaian yang serius dari pemerintah," ungkapnya.

Senada, Dede Oetomo, dosen tidak tetap FISIP, membandingkan kisah tersebut dengan kisah para eksil imbas dari peristiwa '65. "Sama ironisnya. Mudah-mudahan film ini diputar di berbagai tempat untuk mengingatkan, bahwa pernah ada aktivis-aktivis yang diculik dan dihilangkan," katanya.

"Pun, memang sampai saat ini demokrasi kita belum sempurna. Tapi apa yang ada saat ini adalah hasil perjuangan mereka yang belum selesai. Kelak, pasti ada yang memperjuangkan cita-cita keduanya," tambahnya.

Dalam akhir diskusi film Yang (Tak Pernah) Hilang, Dandik memungkasi, "Pemutaran film ini tidak bisa ditunda-tunda lagi. Ini merupakan pertanggungjawaban publik."

Semua yang hadir berharap peristiwa '98 ada penyelesaian dari pemerintah. Itu merupakan pelanggaran HAM yang patut diperhatikan. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: