Khasanah Ramadan (19): Green Ramadan

Khasanah Ramadan (19): Green Ramadan

Kajian Ramadan bertema Pembangunan Kehutanan dalam perspektif Islam dalam acara Green Ramadhan; Sinergi Rimbawa, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, pada Rabu, 27 Maret 2024. -Suparto Wijoyo-

HARIAN DISWAY - Green Ramadhan 1445 H. Sebuah tema yang menuangkan rasa syukur atas kehadiran bulan suci Ramadan. Apakah green Ramadan itu?

Mari menengok acara yang satu ini. Bertajuk sama, Green Ramadhan; Sinergi Rimbawa, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur mengajak para rimbawan menyelami maknanya pada Rabu, 27 Maret 2024, di lapangan kantor. 

Banyak rangkaian kegiatan digelar. Kultum spesial Ramadan, tadarus online dan offline, khataman Al-Qur’an, bazar Ramadan, santunan anak yatim, dan lomba menggambar untuk SD/sederajat bertema Ramadan dan Kehutanan. 

Masih ada penyerahan simbolis program kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Hutan 2024. Dimeriahkan penampilan Nada Religi - Wana Band Dishut Jatim dan Hadrah Gema Nada Hidayah DWP Dishut Jatim yang menambah suasana green Ramadan itu makin semarak.

Tak lupa kajian Ramadan bertema Pembangunan Kehutanan dalam perspektif Islam oleh Sekretaris PWNU Jatim Dr KH Muhammad Hasan Ubaidilah MHi MSi. Saya menambahkan ular-ular alias pengantar. 

Acara yang sekaligus memperingati Nuzulul Qur’an diisi tausiah oleh Imam Besar Masjid Al Akbar Surabaya Ustaz KH Muzakky STh.I Al Hafidz itu bernuansa sangat green Ramadan.

Yang menakjubkan, para rimbawan berbagi bibit pepohonan yang menjadi keberpihakan mereka selama ini. Acara yang menggelorakan penanaman pohon ini menyatukan ibadah dalam ruhani teologis sekaligus ekologis. Sejenis gerakan sedekah oksigen.

Ini mengingatkan pesan Rasulullah Muhammad SAW yang disampaikan oleh HR Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi.

"Dari sahabat Anas RA, Rasulullah SAW bersabda: Tiada seorang muslim yang menanam pohon atau menebar bibit tanaman, lalu (hasilnya) dimakan oleh burung atau manusia, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi penanamnya”.

Acara yang diisiniasi Kepala Dinas Kehutanan Jatim Dr. Ir. Jumadi, M.MT. ini memiliki momentum spiritual sekaligus institusional. Acara yang memberikan refleksi atas kenyataan.

Banyaknya tanah longsor, banjir, dan alih fungsi kawasan yang terekam selama ini menjadi bukti bahwa bumi sedang didera bencana.  Sungguh merupakan realitas derita ekologis dengan konsekuensi kerugian ekonomi dan sosial yang besar.

Apalagi di musim hujan ini. Mengapa tragedi banjir dan longsor mentradisi dengan intensitas hujan dijadikan sebagai tertuduh tanpa henti?

Rakyat teramat paham bahwa penyebab utama longsor bukanlah air hujan. Melainkan buruknya manajemen lingkungan yang abai pada hutan.
Penyerahan hadiah lomba lomba menggambar untuk SD/sederajat bertema Ramadan dan Kehutanan oleh Kepala Dinas Kehutanan Jawa Timur Dr. Ir. Jumadi, M.MT. -Suparto Wijoyo-

Banyak pihak menjadi sangat fasih membincangkan angka-angka agar hutan semakin produktif dengan aspek komoditi tanpa keterampilan mendeteksi keroposnya kawasan konservasi. Tapi Dishut Jatim tampil dengan seruan menggugah: green Ramadan. 

Krisis lahan dan hutan yang terdeforestasi adalah ancaman serius.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: