Khasanah Ramadan (22): Malam Kemuliaan

Khasanah Ramadan (22): Malam Kemuliaan

Islam hadir dengan ajaran Rabb Yang Maha Sempurna. Termasuk memberikan sesi “jeda” untuk berintrospeksi melalui mekanisme puasa Ramadan. --

HARIAN DISWAY - PEKAN lalu masjid-masjid agak sedikit longgar. Sementara mal semakin ramai orang belanja untuk menyambut Lebaran 1 Syawal 1445 H. Tahapan puasa Ramadan memasuki sepuluh hari terakhir yang diyakini disinggahi malam seribu bulan. 

Sekumpulan orang lazim bergerombol duduk iktikaf sebagaimana diserukan Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 125: Wa iż ja'alnal-baita maṡābatal lin-nāsi wa amnā, wattakhiżụ mim maqāmi ibrāhīma muṣallā, wa 'ahidnā ilā ibrāhīma wa ismā'īla an ṭahhirā baitiya liṭ-ṭā`ifīna wal-'ākifīna war-rukka'is-sujụd. Intinya ada pesan: "…. bersihkanlah rumahKu untuk orang-orang yang thawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud".

Atas nama waktu Lailatulqadar, masjid-masjid kampung dan kampus di tengah malam menggeliat. Jamaah asyik beriktikaf. Memang, setiap waktu ada saatnya dan setiap saat menyajikan waktunya dengan segala risalahnya. 

BACA JUGA:Khasanah Ramadan (21): Zakat Menyejahterakan Umat

Pewahyuan Al-Qur’an pada bulan Ramadan merupakan ”dekrit teologis” yang merombak secara ”radikal” status manusia bergelar al-amin yang semula dikenal sebagai Muhammad bin Abdullah semata berubah menjadi Baginda Nabi Muhammad SAW, Rasulullah SAW. 

Ini adalah peristiwa besar yang berasal dari ungkapan suci yang kini tertera dalam  Al-Qur’an, Surat Al-alaq, ayat 1-5 yang maknanya sudah banyak dihafal para pengiman.

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Peristiwa kenabian dan kerasulan Muhammad SAW merupakan “proklamasi peradaban” yang spektakuler. Konstruksi sosial dan kenegaraan terombak secara total dari kejahiliaan, niradab, menuju era peradaban mulia. 

Pengaruhnya sangat luas sehingga Rasulullah SAW menurut para ahli yang berkelas internasional, adalah sosok agung  yang paling berpengaruh dalam sejarah. Tidak ada manusia, nabi, dan rasul yang tingkat pengaruhnya melebihi Kanjeng Nabi Muhammad SAW. 

Ajaran Islam telah Allah SWT sempurnakan melalui utusan-utusan-Nya dengan puncak supremasi utusan di tangan Muhammad SAW. Pada spektrum itu, Islam menjadi agama paripurna sebagaimana dapat dibaca dalam Al-Qur-an. 

Kesempurnaan ajaran Islam dapat dirunut dari mengatur aspek yang sangat sederhana selaksa urusan cuci tangan dan mulut sampai pada yang amat kompleks mengenai tatanan bernegara. Islam hadir dengan ajaran Rabb Yang Maha Sempurna. Termasuk memberikan sesi “jeda” untuk berintrospeksi melalui mekanisme puasa Ramadan. 

BACA JUGA:Khasanah Ramadan (19): Green Ramadan

Puasa yang sudah diwajibkan kepada kaum-kaum terdahulu, umat-umat para utusan-Nya sebelum Nabi Muhammad SAW dengan capaian akhir berupa “derajat takwa yang spesial”.

Inilah tingkat ketaatan kepada seluruh regulasi Tuhan dalam segala segi kehidupan. Karena tidak ada ruas kehidupan yang tidak mendapatkan sentuhan norma dari Allah SWT.

Sumber: