Saksi Perang Lima Hari, Lawang Sewu, Benarkah Angker?

Saksi Perang Lima Hari, Lawang Sewu, Benarkah Angker?

Gedung utama Lawang Sewu yang megah. Bangunan itu dulu menjadi kantor pusat kereta api di era kolonial. --HARIAN DISWAY

SEMARANG, HARIAN DISWAY - Mungkin publik masih ingat tentang tayangan televisi swasta bertema misteri. Sekitar dekade 2000an. Tayangan reality show, dan peserta uji nyali benar-benar ditempatkan seorang diri di sebuah tempat angker

Salah satu episode paling terkenal adalah Lawang Sewu. Peserta uji nyali duduk sendirian di sebuah ruangan di gedung tua itu. Ia mengenakan jaket tebal, penutup kepala, dan tangannya memutar-mutar tasbih. 

Meski berdoa, terlihat hatinya gusar. Ada sedikit ketakutan. Benar saja, apa yang ditakutkan benar-benar terjadi. Tiba-tiba tampak sosok perempuan berbaju putih, berambut panjang. Lelaki itu pun melambaikan tangan ke kamera. "Mas, tolong, mas!". Uji nyali pun gagal.

Tayangan seram itu populer. Nama Lawang Sewu terangkat. Masyarakat pun berbondong-bondong datang. Penasaran dengan bangunan peninggalan kolonial itu. Begitu juga dengan Harian Disway. 

Bukan untuk mencari tahu hantu di dalamnya, tapi lebih ingin menyusuri sudut demi sudut bangunan tua itu. Kini, kondisinya telah terawat dan bersih. Halaman depan ditumbuhi rerumputan hijau. Cagar budaya itu megah berdiri di pusat kota Semarang. 

BACA JUGA: Wisata ke Laut Mediterania dan Ghost Village di Turkiye Menapaktilasi Alexander Agung

Tarif masuk Lawang Sewu cukup terjangkau. Hanya Rp 15 ribu saja per orang. Pengunjung dapat menyewa guide untuk menerangkan sejarah tentang bangunan tersebut. "Harganya 100 ribu rupiah jika untuk rombongan. Namun, jika wisatawannya hanya 2-3 orang saja, cukup membayar 75 ribu rupiah," kata seorang guide yang berjaga di depan pintu masuk.


Video art yang ada dalam ruang dalam Lawang Sewu. --HARIAN DISWAY

Lawang Sewu terbagi atas dua gedung besar. Rute pertama, pengunjung memasuki gedung di sebelah timur. Menaiki anak tangga dan masuk ke dalam ruangan informatif berisi sejarah perkeretaapian di Indonesia. Panel-panel berisi berbagai keterangan sejarah tentang berdirinya kereta api.

Rupanya pihak KAI menggandeng pengelola Lawang Sewu untuk memajang berbagai keterangan tentang kereta api. Meliputi sejarah tiap stasiun di berbagai daerah, dan lain-lain. Wajar karena ditilik dari sejarahnya, Gedung Lawang Sewu adalah bekas kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, atau perusahaan kereta api Hindia Belanda.

Maka saat ini bangunan tersebut dijadikan sebagai museum dan galeri kereta api. Dikelola oleh Unit Heritage KAI dan anak perusahaan tersebut: KAI Wisata. Lebih masuk ke dalam terdapat ruangan-ruangan yang dibatasi dinding dan puluhan pintu.


Pintu-pintu yang berjajar membatasi setiap ruang di Lawang Sewu. Banyaknya pintu membuat destinasi itu dinamakan Lawang Sewu atau pintu seribu. --HARIAN DISWAY

Sesuai namanya: Lawang Sewu. Dalam bahasa Indonesia berarti "seribu pintu". Pintu tiap ruang dari ujung memanjang seperti visual perspektif. Tiap ruangan ada empat pintu di empat sudut. Entah ada berapa ruangan dan berapa pintu yang ada di Lawang Sewu.

Turun ke bawah terdapat berbagai ruang yang menjajakan cinderamata. Seperti kue-kue khas Semarang atau berbagai aksesoris lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: