Transformasi Ekonomi ala Prabowonomics: Solusi atau Delusi?

Transformasi Ekonomi ala Prabowonomics: Solusi atau Delusi?

ILUSTRASI Transformasi Ekonomi ala Prabowonomics: Solusi atau Delusi?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Keberadaan sejumlah smelter tersebut turut mendongkrak perekonomian daerah. Di Sulteng, pertumbuhan ekonomi meningkat dari rata-rata 7 persen menjadi 15 persen. Serupa di Maluku Utara, sebelumnya rata-rata pertumbuhan di angka 5,7 persen, setelah hilirisasi, menjadi 23 persen dalam setahun. 

Demikian pula, dilihat dari tingkat penyerapan tenaga kerjanya, untuk Sulteng, dari 1.800 naik menjadi 71.500 tenaga kerja. Sementara itu, di Maluku Utara, sebelum hilirisasi hanya tercatat 500 tenaga kerja dan kini melonjak menjadi 45.600 pekerja.

Terlebih, bergabungnya Indonesia dalam kaukus ekonomi BRICS yang dimotori Tiongkok dan Rusia akan memberi ruang seluas-luasnya bagi Indonesia untuk melakukan diversifikasi, baik produk ekspor unggulan maupun pasar tujuan ekspor. 

Diversifikasi produk dan pasar ekspor amatlah strategis di saat Trump menggeber pengenaan tarif impor tinggi pada produk-produk Tiongkok, Kanada, dan Meksiko. 

Tiongkok merupakan mitra dagang utama dan pangsa pasar terbesar bagi produk Indonesia yang dalam lima tahun terakhir (2020–2024) menunjukkan tren positif sebesar 15 persen. 

Dengan demikian, Indonesia akan terkena imbas tidak langsung akibat politik entry barrier Trump yang sangat proteksionis.

Di tengah konstelasi geopolitik global yang masih memanas akibat perang dagang AS versus Tiongkok, implementasi gagasan prabowonomics menemui tantangan yang tidak ringan. 

Apakah Prabowo mampu mengorkestrasi segala sumber daya pendukung untuk mewujudkan ambisinya menggapai pertumbuhan ekonomi 8 persen? Mari kita tunggu. (*)

*) Sukarijanto adalah anggota Association of South East Asia Strategic Management Community dan mahasiswa Program Pascasarjana (S-3) PSDM Universitas Airlangga.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: