Seminar Gugah Nurani Indonesia: Mewujudkan Generasi Sehat, Bertanggung Jawab dan Peduli dengan Lingkungan yang Aman & Nyaman

Semarak seminar talkshow yang digelar oleh Gugah Nurani Indonesia merayakan hari Anak Nasional 2025 pada 22 Agustus 2025 di Surabaya. --Gugah Nurani Indonesia
Kota Surabaya pertama kali meraih akreditasi Kota Ramah Anak UNICEF pada September 2024 lalu. Untuk taraf nasional, Kota Surabaya telah menerima penghargaan Kota Layak Anak (KLA) Kategori Utama dari KemenPPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) sebanyak enam kali berturut-turut.
Salah satu anak binaan dari Gugah Nurani Indonesia, Dzikra, menyampaikan bahwa tujuannya bergabung forum anak adalah untuk menghindari kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat. Selain sekolah, Dzikra juga disibukkan dengan kegiatan Randai dan dayung yang dia ikuti.
BACA JUGA: Puncak Hari Anak Nasional (HAN) di Surabaya Diiringi dengan Deklarasi dan Pentas Seni Budaya
Anak-anak muda ini menjadi gambaran bahwa generasi muda Indonesia perlu dibimbing dan diarahkan, karena anak remaja adalah aset berharga yang menanggung tanggung jawab untuk menjadi agen perubahan di masa yang akan datang.
Acara talkshow tidak berhenti sampai sesi 1 saja. Setelah mendapatkan insight dari para anak muda, kini saatnya beralih ke para ahli yang punya segudang ilmu yang bermanfaat.
Sesi kedua dimoderatori oleh Heti Palestina Yunani dari tim redaksi Harian Disway bersama narasumber Dr. Berlian Beatrix R, Sp.A. sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Wonocolo, Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, S.KM, M.Kes yang merupakan Ketua Departemen Gizi FKM Unair, dan Nanik Sukristina, S.K.M, M.Kes sebagai Kepala Dinas Kesehatan Surabaya. (Dari kanan ke kiri). --Gugah Nurani Indonesia
Dimoderatori oleh Heti Palestina Yunani, sesi kedua ini bertajuk “Bebas Stunting untuk Kotaku,” yang diisi oleh para narasumber hebat.
BACA JUGA: PDIP Jawa Timur Dukung Zero Stunting Lewat Penguatan Layanan Perempuan
Ada Nanik Sukristina, S.K.M, M.Kes sebagai Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Dr. Berlian Beatrix R, Sp.A. sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Wonocolo, dan ada Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, S.KM, M.Kes yang merupakan Ketua Departemen Gizi FKM Unair.
Pada tahun 2021, kasus stunting di Kota Surabaya mencapai 6.722 kasus. Kemudian secara konsisten turun perlahan, hingga pada Juni 2025 Wali Kota Eri Cahyadi melaporkan bahwa kasus stunting di Surabaya telah turun menjadi 1,6%.
Dari data ini menunjukkan bahwa Kota Surabaya berhasil menekan laju kasus stunting secara signifikan. Banyak pihak yang saling gotong-royong untuk mewujudkan Kota Bebas Stunting.
BACA JUGA: Anak Terdampak Stunting di Surabaya Tersisa 205 Kasus, PJs Wali Kota Ingatkan Ancaman Pra-Stunting
Ibu Nanik menekankan bahwa pencegahan stunting harus diterapkan sedini mungkin. Para anak remaja harus dipantau dari segi kesehatan dan gizi. Dokter Belatrix juga memiliki argumen yang sama, karena stunting bergerak seperti sebuah siklus kehidupan yang akan terus berputar jika tidak dicegah dari awal.
“Untuk mencegah stunting, gizi harus dipenuhi seumur hidup, dianjurkan untuk minum air putih, menjaga kebersihan, sering beraktivitas fisik, dan pemberian tablet darah satu minggu sekali bagi perempuan,” tambah Dokter Rahayu.
Kemudian muncul sebuah pertanyaan dari salah seorang audiens. Bagaimana potensi dari ilmu lain dapat menyebabkan stunting?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: