Kasus Pembunuhan Janda di Sleman, DIY: Putus Cinta Momen Bahaya
ILUSTRASI Kasus Pembunuhan Janda di Sleman, DIY: Putus Cinta Momen Bahaya.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Hasilnya, mereka menemukan tiga jenis utama pembunuhan pria terhadap wanita:
Pertama, pembunuhan intim. Ada 105 kasus. Para korban perempuan adalah pasangan intim pelaku. Bisa istri atau pacar.
Kedua, pembunuhan seksual. Ada 98 kasus. Para korban perempuan bukan pasangan intim pelaku, melainkan pasangan seksual. Misalnya, pelacur.
Ketiga, pembunuhan perempuan tua (usia 65 ke atas). Ada 40 kasus.
Hasilnya diungkapkan Russell dalam wawancara dengan Sophia Rahman untuk Vice. Russell menjelaskan demikian:
Dalam sebagian besar kasus, seorang pria akan membunuh pasangannya karena kecemburuan seksual. Itu terjadi ketika sang wanita ingin meninggalkan hubungan atau setelah mereka berpisah.
Awalnya, pria akan merayu sang wanita dan mencoba memenangkan hatinya. Ketika si pria merasa jelas bahwa mereka tidak mungkin rujuk, situasinya bisa berubah serius.
Pembunuhan intim (golongan nomor satu) merupakan pembunuhan yang paling disengaja. Para pelaku pencemburu berat. Posesif. Mereka punya masa kecil dan remaja yang bermasalah. Banyak yang bermasalah alkohol dan menganggur. Ada juga yang tidak memiliki catatan kriminal atau masalah alkohol dan bekerja secara rutin.
Pelaku pria yang tidak punya masalah alkohol atau tindak kriminal punya masa kanak-kanak yang pahit. Mereka terabaikan orang terdekat, disiksa, dilecehkan, atau tanpa dukungan psikologis memadai.
Dalam kasus pembunuhan seksual, sekitar 37 persen korban adalah orang asing (bisa pelacur) bagi pelaku. Sisanya adalah teman, tetangga, atau kerabat.
Russell: ”Pembunuh seksual punya latar belakang yang sangat bermasalah, jauh lebih parah daripada pembunuh pasangan intim. Mereka biasanya konsumen alkohol dan ketergantungan narkoba.”
Terakhir, dalam kasus pembunuhan terhadap perempuan lanjut usia, penelitian menemukan bahwa 40 persen korban adalah orang asing bagi pelaku. Dalam banyak kasus, pelaku pecandu narkoba dan mengincar orang-orang rentan yang tinggal sendiri.
Russell menutup wawancara, masalah sebenarnya adalah rasa berhak dalam budaya laki-laki. Dalam budaya populer, misalnya, banyak sekali demonstrasi tentang laki-laki pencemburu berat. Pola pikir itulah yang dimiliki banyak pelaku yang ia teliti.
Kasus pembunuhan Rosita masuk golongan nomor satu teori Russel. Pelakunya posesif. Biasanya punya masa kanak-kanak bermasalah. Bisa juga, pecandu alkohol atau narkoba. Mungkin, karena itulah Rosita memutus hubungan.
Sayang, Rosita belum mengetahui teori itu. Dia malah memukul gigi pelaku. Jadi, pengetahuan semacam teori Russell tersebut penting bagi perempuan yang dalam hubungan asmara. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: