Kasus Pembunuhan Janda di Sleman, DIY: Putus Cinta Momen Bahaya

Kasus Pembunuhan Janda di Sleman, DIY: Putus Cinta Momen Bahaya

ILUSTRASI Kasus Pembunuhan Janda di Sleman, DIY: Putus Cinta Momen Bahaya.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BACA JUGA:Sudah Janda, Masih Dibunuh

BACA JUGA:Janda Dua Anak di Jombang Edarkan Sabu

Kapolsek Gamping AKP Bowo Susilo kepada wartawan mengatakan, berdasar rekaman kamera CCTV di depan rumah itu yang terhubung ke HP korban, Lukas masuk rumah tersebut pukul 06.43. Lalu, ia keluar pukul 06.47. Cuma empat menit.

Sekitar pukul 07.00 Lilis pulang. Dia mendapati pintu depan rumah tertutup, tidak terkunci. Biasanya setiap pagi sampai sore pintu selalu terbuka jika ada penghuni di rumah. Lilis masuk. Di wastafel dekat dapur ada dua pisau dapur yang berlumur darah.

Jejak ceceran darah dari dapur ke arah kamar Rosita yang tertutup. Lilis membuka pintu kamar yang tak terkunci. Dia menjerit kaget saat melihat tubuh Rosita di lantai dengan luka lebar di leher. Rosita sudah tak bergerak. Lilis berteriak minta tolong sehingga tetangga berdatangan.

Polisi tiba di sana dan mengolah TKP, memeriksa barang bukti dan meminta keterangan para saksi. Polisi mencurigai Lukas. Polisi mencarinya untuk dimintai keterangan. 

Hari itu juga, sekitar pukul 08.00, Lukas ditemukan polisi, pingsan di pemakaman umum di Kecamatan Secang, Magelang. Mulutnya berbusa. Lukas dilarikan ke RS Polri Yogyakarta. Hasil pemeriksaan dokter, Lukas keracunan cairan obat pembasmi nyamuk. Diduga ia berusaha bunuh diri.

Kondisi Lukas tidak parah. Hari itu juga ia sembuh. Kemudian, ia diperiksa polisi dan ia mengakui membunuh Rosita. Motifnya, Lukas-Rosita tiga bulan pacaran, kemudian Rosita menyatakan putus. Lukas merayu Rosita agar mereka tetap pacaran. Rosita menolak. Terjadilah pembunuhan itu.

Apa yang dilakukan Lukas di dalam rumah selama empat menit itu?

AKP Bowo: ”Menurut pengakuan tersangka, korban memukul kena mulut tersangka. Akibatnya, gigi palsu tersangka copot. Tersangka marah. Ia membanting korban, kemudian membentur-benturkan kepala korban ke lantai. Saat korban pingsan, tersangka mengambil pisau di dapur, lalu menggorok korban.”

Mengapa putus hubungan asmara adalah momen bahaya bagi wanita?

Duo profesor kriminologi suami istri, Russell Dobash dan Rebecca Dobash, dalam buku mereka, When Men Murder Women (2015), menjawab pertanyaan tersebut. 

Intinya, itu hanya dilakukan pria posesif yang punya latar belakang kanak-kanak bermasalah (terabaikan ortu, penyiksaan fisik dan/atau psikologis, pelecehan seksual).

Russell meraih gelar sarjana dan magister kriminologi dari Arizona State University, AS, dan meraih gelar doctor of philosophy dari University of Washington, AS.

Bukunya itu hasil risetnya bersama istri, Rebecca, selama tiga tahun meneliti 866 berkas kasus pembunuhan dan wawancara dengan lebih dari 200 narapidana pembunuh di tujuh penjara di Inggris. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: