Literasi Kunci Mengurangi Jumlah Korban Bencana
ILUSTRASI Literasi Kunci Mengurangi Jumlah Korban Bencana.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Hujan Lebat dan Angin Kencang Picu Bencana di Jatim, Malang Jadi Wilayah Terparah
BACA JUGA:Bencana Ganda di Nduga: Puluhan Rumah Rusak, 15 Orang Belum Ditemukan
BNPB mencatat, dari 23 warga yang dilaporkan hilang, sebanyak 16 korban ditemukan meninggal dunia, sementara 7 lainnya masih dalam pencarian. Jumlah korban bukan tidak mungkin akan bertambah.
Bencana tanah longsor tidak hanya menimbun rumah-rumah penduduk di sekitar area bencana, tetapi yang mengenaskan, masyarakat yang tidak menduga pun akan ikut tertimbun tanah hingga meninggal dunia.
Material tanah dan batu menimbun rumah-rumah yang berada tepat di bawah tebing. Warga yang sedang berada di rumah karena berteduh dari curahan hujan justru menjadi korban pertama karena tak sempat lari ke luar rumah untuk menyelamatkan diri.
LITERASI BENCANA
Untuk mencegah atau minimal mengurangi jumlah warga yang menjadi korban bencana, yang dibutuhkan adalah literasi bencana.
Masyarakat sejak dini perlu dilatih agar senantiasa mewaspadai tanda-tanda awal tanah longsor. Mulai munculnya retakan tanah di lereng, pohon miring, hingga suara gemertak dari pergerakan tanah.
Upaya mencegah agar korban bencana tidak makin banyak, perlu disadari bahwa hal itu tidak bisa dilakukan secara instan. Membangun literasi bencana dan upaya mencegah risiko bencana membutuhkan langkah jangka panjang seperti penguatan vegetasi, penataan ruang yang tepat, dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kondisi geografis setempat.
Itu adalah upaya gabungan yang jika dilaksanakan dengan benar niscaya akan mengurangi risiko dan dampak bencana.
Dari segi teknis, melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi curah hujan memang secara pragmatis akan dapat mengurangi curah hujan yang terlalu tinggi.
Selain itu, ketika pemerintah memastikan keberadaan sistem peringatan dini berbasis teknologi, niscaya juga akan bermanfaat sebagai bentuk peringatan kepada masyarakat akan waktu untuk menghindar dari datangnya bencana dapat lebih longgar.
Meski demikian, perlu diingat bahwa datangnya bencana alam sering kali tidak terduga. Mereka hadir seperti mimpi buruk yang datang tiba-tiba tanpa permisi. Bagi yang tidak memiliki literasi bencana yang kokoh, mereka umumnya akan lalai menjaga diri dan rawan menjadi korban terjadinya bencana tanah longsor.
Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang rutin setiap tahun terjadi. Namun, entah mengapa kita sepertinya lupa terhadap bahaya bencana dan baru bergerak ketika korban sudah berjatuhan. Sampai kapankah kita terus lalai menjaga keselamatan masyarakat di daerah bencana? (*)
*) Bagong Suyanto adalah guru besar sosiologi, FISIP, Universitas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: