Pameran Imersif Cross Musea Bajawara di Museum 10 Nopember Bikin Belajar Sejarah Makin Seru

Pameran Imersif Cross Musea Bajawara di Museum 10 Nopember Bikin Belajar Sejarah Makin Seru

Pengunjung melihat koleksi bersejarah dan memandangi video di pameran imersif Museum 10 Nopember Surabaya. - Afif Siwi - Harian Disway

Selain menonton video sejarah dalam pameran imersif, peserta berkesempatan mengamati koleksi museum. Di antaranya, mesin ketik kuno, persenjataan, koran lama, kostum pahlawan, jubah, dan kitab milik KH Hasyim Asy’ari, serta diorama.

Ada juga potret-potret lawas jalanan di Tunjungan, kondisi Tanjung Perak usai dibom, rumah penduduk yang juga menjadi korban pengeboman, kawasan Jembatan Merah, dan isi ultimatum sekutu.

BACA JUGA:⁠5 Koleksi Paling Ikonik di Museum Nasional yang Perlu Diketahui

BACA JUGA:Hari Pahlawan 10 November2025: Redefinisi Spirit Kepahlawanan, dari Bambu Runcing ke Gawai Digital

“Pameran Cross Musea adalah proyek tahunan kami, dan termasuk program UPTD museum serta Gedung Seni Budaya Disbudporapar. Dalam setahun, kami mengadakan dua kali pameran, Mei dan November,” terang Dinar kepada Harian Disway Kamis, 27 November 2025.

Dalam Cross Musea, Museum 10 Nopember bekerja sama dengan tiga museum lainnya. Yaitu, Museum Pers Nasional, Museum Naskah Proklamasi, dan Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari.

Kali ini, tema yang diusung adalah Bajawara. Kata dalam Bahasa Jawa itu jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia artinya proklamasi.

Dinar menambahkan, cerita sejarah dalam video pameran memang sesuai dengan namanya. Karena itu, proklamasi dimasukkan sebagai salah satu scene di sana.

BACA JUGA:Sambut Ulang Tahun Gombloh, Museum Surabaya Gelar Talkshow Mengenang Gombloh

BACA JUGA:Mengapa 12 Oktober Jadi Hari Museum Nasional? Simak Sejarah dan Maknanya

“Di Surabaya, waktu itu, proklamasi diumumkan dalam bahasa daerah. Jadi, ceritanya mengisahkan peristiwa mulai dari proklamasi sampai dibangunnya Tugu Pahlawan,” imbuhnya.

Dinar berharap, pengunjung bisa memahami kisah sejarah yang ditayangkan lewat video dalam pameran imersif itu.

“Video tadi bagus, bisa menjelaskan kejadian sejarah secara utuh. Menurut saya, anak-anak zaman sekarang juga harus tahu sejarah kemerdekaan. Kebetulan saya ke sini, mau bikin tugas buat video untuk keperluan Ujian Akhir Semester (UAS),” ucap Salsabila Atrisia Cahyani, mahasiswi Pendidikan Bahasa Jepang UNESA. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: