Perempuan Adat Bolivia Menjaga Sejarah Lewat Rok Tradisional Pollera
Para perempuan Bolivia bermain bola dengan busana pallero.-Juan Karita-AP
Mulai dari penambang, pemain sepak bola, pegulat gulat tradisional, pemain skateboard, hingga pendaki gunung. Para cholitas menolak anggapan bahwa busana tradisional mereka menghambat kemampuan isik.
Bagi mereka, pollera justru menjadi pernyataan keteguhan dan perlawanan terhadap standar modern yang kerap menyingkirkan identitas lokal.
Dengan tetap mengenakan busana adat dalam aktivitas profesional dan fisik yang berat, mereka menegaskan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan tradisi.
BACA JUGA:Upacara Li Yuan, Parakhin Kukuhkan 10 Rohaniwan Konghucu di Hari Genta Rohani
“Kami, perempuan ber-pollera, ingin terus melangkah maju,” kata Macaria Alejandro (48), seorang penambang di negara bagian Oruro, Bolivia barat.
Pollera yang dikenakannya tampak penuh debu dan kotoran sisa bekerja seharian di bawah tanah. “Saya bekerja seperti ini dan berpakaian seperti ini demi anak-anak saya.”
Namun, di balik kebanggaan tersebut, terselip rasa cemas mengenai masa depan perempuan adat Bolivia. Kekhawatiran itu muncul seiring perubahan arah politik nasional.
Bolivia kini dipimpin oleh Presiden Rodrigo Paz, pemimpin konservatif tengah-kanan pertama dalam hampir dua dekade terakhir, yang mulai menjabat bulan lalu di tengah krisis ekonomi.
BACA JUGA:Collector’s Spotlight Orasis Art Space Tampilkan 10 Lukisan Sambut Libur Natal dan Tahun Baru
BACA JUGA:Semarak German Christmas Market, Tradisi Jelang Natal di Kanada
Kemenangan Paz menandai berakhirnya era panjang pemerintahan yang dibentuk oleh Evo Morales (2006-2019), presiden pertama Bolivia yang berasal dari masyarakat adat.
Di bawah Morales, Bolivia mengalami transformasi simbolik dan struktural. Termasuk perubahan nama negara menjadi Negara Plurinasional Bolivia serta pengakuan wiphala, bendera kotak-kotak berwarna cerah khas masyarakat adat, sebagai simbol nasional setara bendera negara.
Pada masa itu, perempuan ber-pollera mulai terlihat di ruang-ruang kekuasaan. Menteri dan pejabat pemerintah tampil mengenakan busana tradisional. Menandai perubahan besar dalam representasi politik masyarakat adat.
Namun, kepercayaan publik terhadap partai Morales, Gerakan Menuju Sosialisme (MAS), belakangan merosot.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: ap