Membangun Literasi Demokrasi: Fondasi Pemilu Substantif 2029

Membangun Literasi Demokrasi: Fondasi Pemilu Substantif 2029

ILUSTRASI Membangun Literasi Demokrasi: Fondasi Pemilu Substantif 2029.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SEBUAH PARADOKS menggelayuti demokrasi Indonesia. Di satu sisi, pesta elektoral berlangsung hiruk-pikuk dengan partisipasi masif. Di sisi lain, substansi demokrasikedaulatan rakyat yang sesungguhnya” terasa menjauh. 

Pemilu 2024 menjadi cermin gamblang: meski lebih dari 204 juta warga terdaftar sebagai pemilih, kualitas pilihan politik masyarakat belum sepenuhnya mencerminkan kesadaran demokratis yang matang. 

Itulah titik berangkat yang mendesak: bagaimana menjadikan Pemilu 2029 sebagai momentum transformasi dari ritual prosedural menuju pesta demokrasi yang substantif?

BACA JUGA:Unair Dorong Literasi Demokrasi Siswa SMAN 10 Malang Lewat Simulasi Pemilu

BACA JUGA:Sirkulasi Kepemimpinan, Kunci Demokrasi Naik Kelas

Jawabannya terletak pada satu kata kunci: literasi demokrasi. Bukan sekadar kemampuan menggunakan hak pilih, melainkan juga kapasitas memahami secara mendalam apa yang dipertaruhkan dalam pemilu, siapa yang pantas dipilih, dan mengapa pilihan itu penting bagi masa depan bangsa.

POTRET PEMILIH INDONESIA: DOMINASI KAUM MUDA

Data Komisi Pemilihan Umum memberikan gambaran menarik sekaligus mengkhawatirkan. Dalam Pemilu 2024, pemilih generasi milenial mencapai 66,8 juta jiwa atau 33,60 persen dari total daftar pemilih tetap. 

Sementara itu, generasi Z menyumbang 46,8 juta pemilih atau 22,85 persen. Artinya, lebih dari separah, ”tepatnya 56,45 persen”, dari total pemilih Indonesia adalah kalangan muda berusia 18 hingga 44 tahun. 

BACA JUGA:Militer di Ranah Sipil: Stabilitas atau Kemunduran Demokrasi?

BACA JUGA:Melawan Alienasi Politik lewat Estetika, Saat Kesenian Jadi ”Ruang Aman” Demokrasi

Tentu jumlah tersebut akan meningkat pada Pemilu 2029 sehingga kelompok itulah yang nanti menentukan nasib bangsa.

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Itu adalah potret demografi yang akan menentukan arah Indonesia di masa depan. Generasi milenial dan gen Z tumbuh dalam era digital, terpapar informasi tanpa batas. 

Namun, paradoksnya, mereka juga rentan terhadap manipulasi informasi dan narasi politik yang dangkal. Ketika literasi demokrasi tidak dibangun dengan kokoh, dominasi kuantitas pemilih muda justru bisa menjadi ancaman bagi kualitas demokrasi itu sendiri. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: