Derita Pengidap Misophonia di Tengah Jamuan Pesta Natal: Penyuara Jemala Jadi Senjata

Derita Pengidap Misophonia di Tengah Jamuan Pesta Natal: Penyuara Jemala Jadi Senjata

MENGGIGIT makanan atau mengunyah makanan bisa menimbulkan suara yang sangat mengganggu pengidap misophonia.--freepik

HARIAN DISWAY - Autonomous Sensory Meridian Response alias ASMR bisa jadi hiburan menyenangkan bagi banyak orang. ASMR makan-makan, apalagi. Tapi, suara-suara satisfying itu menyeramkan bagi Lottie dan Jenna. 

Jamuan Natal, sebenarnya, selalu Lottie nantikan. Momen berkumpul bersama keluarga, bertukar cerita sambil me-review masakan yang disajikan di meja makan, adalah sukacita Natal yang tak terkira. Sayangnya, perempuan 23 tahun itu tidak tahan dengan suara-suara di meja makan.

Bukan percakapan atau gurauannya yang membuat dia tidak tahan, tapi justru suara-suara kecil yang tidak sengaja muncul. Seperti suara mengunyah, menggigit makanan, atau menyeruput kuah.

“Itu mimpi buruk bagi pengidap misophonia seperti saya,” ujarnya seperti dilansir BBC pada Rabu, 24 Desember 2025.

BACA JUGA:Pengaruh Memakai Earphone Tanpa Musik terhadap Fokus di Lingkungan Ramai

BACA JUGA:Efek Samping Terlalu Sering Menggunakan Earphone

Suara orang mengunyah atau menggigit makanan bisa membuat Lottie diserang rasa cemas. Suara orang menyeruput kuah atau minuman juga membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Seperti itulah yang dirasakan para pengidap misophonia

Kendati bukan penyakit langka dan tidak sedikit pengidapnya, misophonia memang belum banyak dikenal dan dipahami. Maka, orang-orang seperti Lottie pun kadang dianggap aneh.

“Saya bisa tiba-tiba panik. Seluruh tubuh saya bergetar dan menegang. Saya merasa sangat terancam karena tidak bisa mengendalikan suara-suara bising itu,” ungkap Lottie.  
 
Mengidap misophonia sejak umur 16 tahun, Natal selalu membuatnya grogi. Karena itu, dia selalu membawa penyuara jemala alias earphone. Kapan pun ketidaknyamanan menyergapnya, Lottie segera menyumbat telinganya dengan benda mungil itu.


SUARA ORANG MINUM juga membuat pengidap misophonia merasa tidak nyaman. Mereka cenderung menghindari duduk di tengah banyak orang dalam jamuan makan dan minum.--pexels

BACA JUGA:Bukan Sekadar Bisikan: ASMR Jadi Solusi Alami untuk Insomnia

BACA JUGA:Kenapa Orang Suka Nonton Video ASMR? Ini Penjelasannya!

Di luar dugaan, ternyata ada cukup banyak pengidap misophonia di Inggris. Berdasar penelitian King’s College London dan University of Oxford, satu dari lima penduduk Inggris mengidap misophonia.

“Pengidap misophonia takut pada suara-suara yang diproduksi oleh mulut dan tenggorokan. Mereka juga takut pada pergerakan urat wajah yang membuat stres. Demikian juga suara orang mengunyah, bernapas, atau ketukan jari berulang," ungkap Dr. Jane Gregory. 

Lottie beruntung karena keluarganya memahami kondisi tersebut. “Saya tidak ingin membuat orang lain tidak nyaman dengan kondisi saya. Rasanya seperti harus mengorbankan kewarasan saya demi kebaikan semua orang,” paparnya. 

Jenna yang mengidap misophonia sejak berusia 10 tahun juga punya pengalaman yang sama dengan Lottie. Dia tersiksa tiap kali berada dalam acara keluarga yang melibatkan makan bersama atau duduk bersama di sebuah ruangan.

BACA JUGA:4 Tipe Introvert Menurut Psikologi Modern

BACA JUGA:Cara Memaksimalkan Potensi untuk Orang Introvert

Mahasiswi yang kini berusia 21 tahun itu sebisa mungkin menghindari berada di ruangan yang sama dengan banyak orang. “Jika tidak bisa menghindar atau menyendiri, saya terpaksa mengeluarkan senjata saya, earphone,” ungkapnya kepada BBC

Menurut Jenna, Natal dan perayaan serta jamuannya adalah momen yang sangat menantang. “Saya seperti menyimpan amarah tiap kali serangan suara-suara itu datang. Di sisi lain, saya juga merasa malu karena terlihat aneh,” bebernya.

Gregory, peneliti sekaligus misophonia, mengatakan bahwa gangguan itu tidak banyak dikenali sebelum 2010. Sebelumnya, para pengidap misophonia hanya dianggap aneh, introvert, atau bahkan sombong. 

"Saya pernah menangis di pesawat gara-gara earphone saya tidak bisa menyumbat suara penumpang lain yang bersin dengan sangat kencang," ujar penulis Sounds like Misophonia itu kepada The Guardian.


DR JANE GREGORY, peneliti sekaligus pengidap misophonia, membagikan kiat mengatasi gangguan yang banyak dibahas sejak 2010 itu dalam bukunya, Sounds like Misophonia.-Sam Frost-The Guardian

BACA JUGA:6 Unique Christmas Traditions in Indonesia, from Marbinda to Bakar Batu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: